Perang Tabuk, Bagian 2

“(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.” (QS. at-Taubah [9] : 79)


Pendanaan Perang

Abdurrahman bin Auf menyumbang 2.000 dirham atau separuh dari harta kekayaannya demi mencukupi kebutuhan perbekalan pasukan al-‘Usrah.[1] Adapun Umar[2] menyumbang 100 uqiyah.[3] Karena merasa malu, beberapa kaum muslimin yang fakir ada yang memaksakan diri untuk memberikan sumbangan. Oleh orang-orang munafik, tindakan meraka ini sempat menjadi bahan olokan. Diriwayatkan, Abu Aqil datang untuk menyumbang setengah sha’[4] kurma. Kemudian, datang lagi sahabat yang menyumbang lebih banyak daripada yang diberikan oleh Abu Aqil. Melihat itu orang-orang munafik mengejek keduanya, “Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan sedekah orang seperti dia, sedangkan penyumbang yang kedua itu hanya ingin pamer saja.”

Lalu turunlah ayat al-Qur’an yang berbunyi, “...(orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.”[5][6]

Datang pula Abu Khaitsamah al-Anshari dengan satu sha’ kurma. Orang-orang munafik itu menghinanya juga.[7] Boleh jadi, hinaan atau olok-olokan inilah yang dimaksud oleh hadits ath-Thabari[8] yang bercerita tentang sumbangan ibnu Auf. Hadits ini menyebutkan bahwa seorang laki-laki Anshar berkata, “Sesungguhnya aku hanya memiliki dua sha’ kurma. Satu sha’ untuk Tuhanku dan satu sha’ lagi untuk keluargaku.

Orang-orang munafik langsung mencibirnya, “Apa yang diberikan ibnu Auf ini tak lain hanya riya semata.” Mereka juga berkata, “Bukankah Allah tidak butuh satu sha’ ini?”

Jelas kiranya dari keterangan ini bahwa orang-orang munafik menuduh riya kaum Muslimin yang kaya dan menghina sedekah kaum Muslimin yang papa. Itulah gambaran ketulusan dan keikhlasan para sahabat dalam mengorbankan harta dan jiwa mereka untuk jihad di jalan Allah pada masa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Pada sisi lain, semua itu juga merupakan gambaran tentang derita batin orang-orang mukmin sejati manakala dirinya tidak bisa memberikan apa pun untuk kepentingan perjuangan membela agama Allah, atau untuk menjalankan kewajiban mereka terhadap agama.

Sedangkan kaum Muslimin yang papa, lemah fisiknya, sakit, maupun lanjut usia sehingga tidak bisa ikut perang pada saat itu pun tetap berusaha berpartisipasi sesuai dengan kemampuan mereka. Mereka senantiasa menyertai perjalanan para mujahidin di jalan Allah dengan hatinya. Kelompok inilah yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ketika bersabda, “Sesungguhnya di Madinah terdapat sekelompok orang yang apabila kalian menempuh suatu perjalanan atau menjelajah sebuah lembah, mereka selalu ada bersama kalian.”

Para sahabat bertanya, “Rasulullah, benarkah mereka di Madinah ?”

Beliau menjawab, “Ya, mereka tetap berada di Madinah karena suatu rintangan yang tak bisa mereka elakkan.”[9]

Wallahu'alam

Footnote:

1.       Lihat riwayat-riwayat yang menuturkan hal ini menurut ath-Thabari di at-Tafsir, 14, hh.382-391, asy –Syakir ketika beliau menafsirkan firman Allah QS. At-Taubah: 79. Riwayat-riwayat yang dikemukakan oleh ath-Thabari berada di tingkatan dha’if, tetapi riwayat-riwayat tersebut saling memperkuat karena kuatnya bukti khabar ini secara historis.
2.      Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyqa, 1, hh. 408-409, dengan jalur periwayatan di tingkat dha’if, sebab dijaur periwayatannya tercantum nama Ahmad bin Ibrahim bin Arthah. Figur ini dinilai jujur. Ada pula nama Muhammad bin A’idz (yang juga dinilai jujur), dan Utman bin Atha’ (yang dinilai dha’if). Sangat jauh kemungkinannya jika Rasulullah sampai perlu mendorong para sahabat untuk menyumbang dalam perang ini. Juga tak masuk akal bila sahabat seperti Umar tidak memberikan donasi.
3.      1 Uqiyah = 40 dirham. Jadi 100 uqiyah 4000 dirham. Periksa Fairuz Abadi, Al-Qamus al-Muhith, Bab “al-Lam Fashl ar-Ra”.
4.      1 sha’ = 5,03 Kg menurut asy-Syafi’i, atau sekitar 8 Kg menurut Abu Hanifah.
5.      QS. At-Taubah: 79.
6.      Al-Bukhari, al-Fath, hh. 211-213, no. 4667.
7.      Muslim, 4, hh. 2121-2122, no. 2769.
8.     At-Tafsir, 14, hlm. 386, 17010, asy-Syakir (ed). Dengan silsilah periwayatan di tingkat hasan lighairihi karena adanya sejumlah syawahid dan mutaba’ah yang disebutkan ath-Thabari ketika menafsirkan ayat tersebut.
9.      Al-Bukhari, al-Fath, 16 hlm. 256, no. 4433

Main scource: Biografi Rasulullah, Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-Sumber yang Otentik karya Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad

0 Comment for "Perang Tabuk, Bagian 2"

Rasulullah bersabda: “al-Quran akan datang pada hari kiamat seperti orang yang wajahnya cerah. Lalu bertanya kepada penghafalnya, “Kamu kenal saya? Sayalah membuat kamu bergadangan tidak tidur di malam hari, yang membuat kamu kehausan di siang harimu.” Kemudian diletakkan mahkota kehormatan di kepalanya dan kedua orangtuanya diberi pakaian indah yang tidak bisa dinilai dengan dunia seisinya. Lalu orang tuanya menanyakan, “Ya Allah, dari mana kami bisa diberi pakaian seperti ini?” kemudian dijawab, “Karena anakmu belajar al-Qur’an.” (HR. ath-Thabrani)

Back To Top