Perang Tabuk, Bagian 6

“Sesungguhnya Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka itu.” (QS. at-Taubah [9] : 117)


Orang-Orang yang Tidak Ikut Perang Tabuk

Selain orang-orang yang memang benar-benar berhalangan dan orang-orang munafik, ada tiga orang sahabat yang tidak berpartisipasi dalam Perang Tabuk tanpa alasan tertentu. Mereka adalah Ka’ab ibn Malik, Murarah ibn Rabi’ al-Amiri, dan Hilal ibn Umayyah al-Waaqifi. Mereka bertiga tidak ikut dalam Perang Tabuk karena suka menunda-nunda pekerjaan dan cenderung bermalas-malas. Ka’ab radhiyallahu ‘anhu menuturkan kisah tentang ketidakikutsertaan dirinya dalam sebuah hadits panjang yang disampaikan oleh al-Bukhari[1], Muslim[2] dan lain-lain sebagai berikut:

“Inilah kisahku. Sesungguhnya sangat kuat dan ringan bagiku untuk menyertai Rasulullah dalam Perang Tabuk itu. Bahkan aku berkali-kali sudah siap untuk pergi bersama kaum Muslimin, tetapi kemudian pulang lagi dan membatalkan niatku. Aku berkata kepada diriku sendiri, ‘Sebenarnya aku mampu melakukannya jika menginginkan.’

Hal itu masih terngiang-ngiang ditelingaku sampai orang-orang sibuk, sementara aku sendiri belum mempersiapkan apa pun. Aku masih seperti itu sampai mereka berangkat meninggalkanku. Beberapa waktu kemudian, aku ingin pergi dan menyusul merekaa, tapi tidak segera melakukannya. Duhai, seandainya ketika itu aku melakukannya!

Hal itu tampaknya belum menjadi takdirku. Apabila aku keluar rumah, bertemu orang-orang setelah keberangkatan Rasulullah, dan pergi berkeliling, aku merasa sangat sedih karena tidak melihat kecualii orang-orang yang tenggelam dalam kemunafikan atau orang-orang dari kalangan miskin danlemah yang dimaafkan Allah. Ketika ku dengar kabar bahwa Rasulullah sedang dalam perjalanan pulang, yang membuat semangatku bangkit kembali, terbesitlah dalam benakku untuk berdusta kepada beliau, sebab aku berpikir, ‘Dengan apa aku bisa selamat dari murka Rasulullah besok?’

Aku pun minta pendapat dari orang-orang bijak bestari di keluargaku. Tatkala dikabarkan bahwa Rasulullah telah tiba, dusta luruh dari dalam diriku. Aku akan berkata jujur kepada beliau.

Aku datang menemui Rasulullah. Ketiak aku mengucapkan salam, beliau tersenyum sinis dan berkata, ‘Ke marilah.’

Aku berjalan mendekat dan duduk di hadapan Rasulullah. Beliau bertanya kepadaku. ‘Apa yang membuatmu berhalangan ikut? Bukankah engkau telah menjual untamu?’

Aku menjawab, ‘Benar. Sesungguhnya aku, demi Allah, bila berhadapan dengan orang selain Anda, yakin bisa terbebas dari amarahnya dikarenakan alasan yang akan kuajukan, bahkan aku akan berani mendebatnya. Akan tetapi, demi Allah, hari ini aku sadar sepenuhnya bahwa bila aku berbicara dusta kepada Anda, dan meskipun Anda menerima alasanku, niscaya hal itu akan tetap membuat Allah murka kepada Anda kerena aku. Dan apabila aku berkata jujur kepada Anda, pasti Anda temukan bahwa aku hanya mengharapkan ampunan Allah. Demi Allah, sesungguhnya aku saat itu tidak punya alasan untuk tidak ikut berjihad bersama Anda. Demi Allah, aku merasa berdosa ketika aku tidak pergi bersama Anda.’

Rasulullah pun berkata, ‘Orang ini berkata jujur. Maka tinggalkanlah kami hingga Allah menentukan hukuman untukmu.’

Aku pun pergi. Namun, beberapa orang dari Bani Salamah bangkit mengikutiku dan mempersalahkan kejujuranku. Aku bertanya kepada mereka, ‘Apakah ada orang yang berbuat sama denganku?’

Mereka menyahut, ‘Ya. Ada dua orang yang berkata persis seperti perkataanmu. Juga dikatakan kepada mereka persis seperti apa yang dikatakan kepadamu.’

Aku bertanya, ‘Siapa mereka?’

Orang-orang itu menjawab, ‘Murarah ibn Rabi’ dan Hilal ibn Umayyah.’

Mereka menyebutkan nama dua orang saleh yang ikut dalam Perang Badar.[3] Keduanya adalah panutan bagiku.

Tak lama kemudian, Rasulullah melarang khalayak untuk berbicara dengan kami bertiga. Maka orang-orang pun menjauhi kami dan sikap mereka terhadap kami berubah total. Bahkan seolah-olah seluruh isi bumi ini telah mengucilkan kami dan menentang kami, padahal aku tidak mengenal mereka. Kami lalui hal itu selama 50 malam. Kedua sahabatku tadinya hanya diam dan tinggal di rumah mereka seraya menangis. Aku sendiri mencaci orang-orang dan membentak mereka. Suatu ketika aku keluar rumah. Aku pergi untuk menunaikan shalat berjamaah bersama kaum Muslimin lainnya. Aku mengelilingi pasar-pasar. Namun, tetap saja tidak ada seorang pun yang mau berbicara kepadaku. Kemudian, aku mendatangi Rasulullah. Kuucapkan salam kepada beliau yang sedang duduk di tempatnya usai shalat. Aku bertanya-tanya dalam hati, ‘Apakah Rasulullah akan menggerakkan bibirnya untuk menjawab salamku atau tidak?’

Lantas aku shalat di dekat Rasulullah. Aku mencuri-curi pandang kepada beliau. Ketika aku memulai shalatku, Rasulullah memandangku. Namun sewaktu aku menoleh ke arah Rasulullah, beliau memalingkan wajahnya dariku.

Ketika aku sedang berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba datanglah seorang warga Syam membawa makanan yang dijualnya di Madinah. Orang ini berkata, ‘Siapa yang bisa menunjukkan kepadaku di mana Ka’ab ibn Malik?’

Orang-orang di pasar segera menunjukkan hingga orang Syam itu menemuiku dan menyerahkan sepucuk surat dari Raja Ghassan. Surat itu berbunyi, ‘Amma ba’du. Aku sudah mendengar bahwa sahabat-sahabatmu telah mengabaikanmu. Allah tidak memasukkanmu ke tempat yang hina dan sia-sia. Bergabunglah bersama kami, orang-orangmu.’

Selesai membaca, aku berkata, ‘Ini juga termasuk cobaan.’

Kucampakkan surat itu ke perapian dan membakarnya.

Akhirnya, stelah 40 hari dari 50 hari masa hukumanku, seorang utusan Rasulullah mendatangiku dan berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah memerintahkanmu untuk menjauhi istrimu.’

Aku bertanya, ‘Kuceraikan dia, atau apa yang harus kulakukan?’

Rasulullah menjawab, ‘Tidak. Jauhi saja dia dan jangan mendekatinya.’

Rasulullah juga mengutus orang untuk menyampaikan hal serupa kepada kedua sahabatku. Aku lalu berkata kepada istriku, ‘Pulanglah ke rumah orang tuamu. Tinggallah dulu bersama mereka sampai Allah memutuskan sesuatu dalam perkara ini.’

Setelah itu, kujalani sisa 10 malam terakhir hingga sempurnalah 50 malam sejak Rasulullah melarang orang-orang untuk berbicara dengan kami bertiga.

Usai menunaikan shalat Shubuh pada pagi hari setelah malam ke-50, aku duduk termenung di atap rumah kami sambil berdzikir kepada Allah. Jiwaku sesak kurasakan, begitu pula bumi telah menjadi sempit, padahal bumi itu luas.

Tiba-tiba aku mendengar teriakan seseorang dari atas gunung Sala’[4], ‘Hai Ka’ab ibn Malik, dengarlah berita gembira untukmu!’

Aku langsung bersujud. Aku tahu bahwa kemudahan dan ampunan sudah tiba. Rasulullah telah mengumumkan penerimaan Allah atas tobat kami usai menunaikan shalat Shubuh. Orang-orang berhamburan menyampaikan berita gembira ini kepada kami. Mereka juga menyampaikan hal ini kepada kedua sahabatku. Ketika orang yang kudengar teriakannya tadi menyampaikan kabar gembira ini kepadaku, aku segera meleepas kedua potong bajuku dan memakaikannya kepada orang itu karena kegembiraan yang kuterima dariinya. Demi Allah, hanya dua potong baju itulah yang kumiliki ketika itu. Maka selanjutnya aku meminjam dua potong baju lagi untuk kukenakan. Aku pun bergegas menemui Rasulullah.

Orang berbondong-bondong menemuiku untuk mengucapkan selamat atas diterimanya tobatku. Tatkala aku mengucapkan salam kepada Rasulullah, dengan wajah berseri-seri karena bahagia beliau bersabda ‘Kuberikan kabar gembira kepadamu tentang satu hari paling baik yang pernah kau lalui sejak engkau dilahirkan.’

Aku bertanya, ‘Rasulullah, apakah berita gembira itu datang dari Anda, ataukah dari Allah?’

Beliau menjawab, ‘Bukan, berita itu datangnya dari Allah.’

Aku menyahut, ‘Rasulullah, di antara bentuk tobatku adalah aku akan melepaskan seluruh hartaku untuk kusedekahkan kepada Allah dan Rasul-Nya.’

Rasulullah berkata, ‘Simpanlah sebagian hartamu. Yang demikian itu lebih baik untukmu.’

Aku berkata lagi, ‘Rasulullah, aku telah diselamatkan oleh kejujuran. Sesungguhnya di antara tobatku adalah bahwa aku tidak akan mengucapkan apapun kecuali kejujuran, selama aku hidup.’

Kemudian, Allah menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya, ‘Sesungguhnya Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) kepada mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Hal orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.’[5]

Kami bertiga ketinggalan dari orang-orang yang diterima alasannya oleh Rasulullah ketika mereka bersumpah setia kepada beliau. Rasulullah membai’at orang-orang itu dan memohonkan ampunan Allah bagi mereka. Rasulullah juga menangguhkan perkara kami sampai Allah menentukan hukuman-Nya bagi kami. Oleh karena itulah Allah berfirman, ‘Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) kepada mereka...’

Firman Allah yang diturunkan ini bukanlah mengenai tidak ikut sertanya kami dalam Perang Tabuk, melainkan meenjelaskan penundaan tobat dan penangguhan perkara kami dari orang-orang yang telah bersumpah setia kepada Rasulullah, meminta maaf kepada Rasulullah, dan diterimanya maaf itu dari Rasulullah.”

Dalam hadits Ka’ab tersebut dituturkan pula bahwa mereka yang tidak ikut dalam perang ini berjumlah sekitar 89 orang. Mereka semua meminta maaf kepada Rasulullah akan ketidakikutsertaan mereka. Rasulullah memaafkan dan menerima keterusterangan mereka itu. Beliau kemudian membai’at meereeka, memohonkan ampunan untuk mereka, dan menyerahkan isi hati mereka kepada Allah. Jumlah ini sesuai dengan yang disebutkan oleh al-Waqidi[6]. Ia menambahkan bahwa jumlah orang Arab Badui yang tidak ikut serta dalam perang ini mencapai 82 orang. Mereka berasal dari Bani Ghifar dan kabilah-kabilah lainnya.

Adapun Abdullah ibn Ubay ibn Salul dan para pengikutnya belum termasuk jumlah itu. Jumlah orang munafik yang tidak ikut dalam Perang Tabuk sangatlah banyak. Al-Waqidi, Ibnu Sa’ad[7], dan Ibnu Ishaq[8] menuturkan bahwa Ibnu Ubay sempat ikut keluar sampai gunung Dzibab di Madinah. Ia diiringi oleh para pengikutnya yang terdiri dari kaum Yahudi dan orang-orang munafik. Dikatakan bahwa pasukan Ibnu Ubay bukanlah pasukan yang kecil. Ketika Rasulullah bergerak, Ibnu Ubay bersama orang-orangnya mundur dan tidak jadi ikut ke Tabuk. Sayangnya, semua kisah ini tidak dirriwayatkan melalui jalur-jalur riwayat shahih.

Orang-orang yang tidak ikut berjuang menyangka bahwa tidak akan ada orang yang mengetahui perbuatan mereka. Hal itu dikarenakan besarnya jumlah personil pasukan Muslimin. Akan tetapi, di perjalanan menuuju Tabuk, Rasulullah ingat kepada beberapa orang yang tidak menyertai beliau. Beliau bertanya kepada Abu Rahmin Kultsum ibn Hishn al-Ghifari tentang orang-orang Bani Ghifar dan kabilah Aslam yang tidak ikut ke Tabuk.[9] Setibanya di Tabuk, beliau menanyakan perihal Ka’ab ibn Malik.[10]

Wallahu’alam

Footnote:

  1. Al-Bukhari, al-Fath, 16, hh. 241-252, no. 4418.
  2. Muslim, 4, hh. 2120-2128, no. 6769.
  3. Ibnu Qayyim berkomentar di Zad al-Ma’ad, 3, hlm. 577, “Topik ini hanyalah prasangka az-Zuhri yang menuturkan riwayat ini. Ia tidak hafal dari satu pun ahli sirah dan maghazi penyebutan kedua orang ini sebagai peserta Badar.” Saya katakan, “Ibnu Hajar telah menyebutkan di al-Ishabah, 4, hlm. 207, bahwa Hilal ibn Umayyah ikut serta dalam Perang Badar, begitu pula dengan Murarah ibn ar-Rabi’, berdasarkan riwayat yang shahih. Lihat al-Ishabah, 4, hlm. 396, sedangkan Ibnu Hajar bukan seorang ahli sirah dan maghazi.”
  4. Sala’ adalah nama sebuah gunung di Madinah, berada di wilayah Bani Hudzail.
  5. QS. At-Taubah: 117-119
  6. Al-Maghazi, 3, hlm. 995. Pendapat al-Waqidi sering ditangguhkan (matruk) dalam hadits meskipun pengetahuannya luas. Oleh karena itu, jalur periwayatannya berada di tingkatan dha’if.
  7. Ath-Thabaqat, 2, hlm. 125. Riwayatnya berasal dari penuturan gurunya, al-Waqidi. Pendapat al-Waqidi sering ditinggalkan, maka dari itu jalur periwayatannya berada di tingakatan dha’if.
  8. Ibnu Hisyam, 4, hlm. 2199, dengan jalur periwayatan di tingkatan mursal. Ibnu Ishaq, al-Waqidi, dan Ibnu Sa’ad mengemukakan kisah ini dengan redaksi “konon”. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sendiri tidak menerima kisah tersebut. Mereka pantas ragu, khususnya dengan penyebutan orang-orang Yahudi dan jumlah bilangan yang tidak sejalan dengan fakta dari peristiwa-peristiwa yang terjadi antara kaum Muslimin dan Yahudi. Eksistensi mereka jauh dari kemungkinan untuk disebutkan di sini, apalagi dengan kekuatan yang mereka miliki, siikap permusuhan, dan tipu daya mereka. Ditambah lagi, riwayat ini tidak datang melalui jalur-jalur yang shahih.
  9. Dari riwayat Ibnu Ishaq yang berkualiitas maushul, dari hadits az-Zuhri. Ibnu Ishaq tidak mengakui menerima hadits ini darinya. Di jalur periwayatannya tercantum nama kemenakan Abu Rahmin yang tidak dikenal oleh al-Haitsami, sebagaimana dijelaskan di al-Majmu, 6, hlm. 192. Lihat Ibnuu Hisyam, 4, hh. 234-236. Riwayat ini dituturkan juga melalui jalur Ma’mar dari az-Zuhri, sesuai deengan keterangan di Mawwarid ash-Zham’an, hlm. 417. Oleh karena itu, riwayat ini meniingkat mutunya menjadi hasan li ghairih, seperti disampaikan oleh as-Sanadi di adz-Dzahab al-Masbuk, hlm. 245.
  10. Al-Bukhari, al-Fath, 16, hlm. 244, no. 4418.

Main scource: Biografi Rasulullah, Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-Sumber yang Otentik karya DR. Mahdi Rizqullah Ahmad

0 Comment for "Perang Tabuk, Bagian 6"

Rasulullah bersabda: “al-Quran akan datang pada hari kiamat seperti orang yang wajahnya cerah. Lalu bertanya kepada penghafalnya, “Kamu kenal saya? Sayalah membuat kamu bergadangan tidak tidur di malam hari, yang membuat kamu kehausan di siang harimu.” Kemudian diletakkan mahkota kehormatan di kepalanya dan kedua orangtuanya diberi pakaian indah yang tidak bisa dinilai dengan dunia seisinya. Lalu orang tuanya menanyakan, “Ya Allah, dari mana kami bisa diberi pakaian seperti ini?” kemudian dijawab, “Karena anakmu belajar al-Qur’an.” (HR. ath-Thabrani)

Back To Top