Perang Tabuk, Bagian 5

“Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Dzar. Ia berjalan seorang diri, meninggal seorang diri, dan kelak dibangkitkan dari kuburnya seorang diri pula.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak, Juz 3 hal. 50-51)


Sikap kaum Mukminin Terhadap Perang Tabuk

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutarakan perintah yang berbeda dengan perintah beliau dalam perang-perang besar sebelumnya. Beliau hanya menyeru kaum Muslimin untuk bersiap pergi jihad.[1] Meski begitu, kaum Muslimin sangat bersemangat dan mereka tidak banyak tanya. Dengan semangat menggebu-gebu mereka menyatakan diri akan menyertai beliau sesulit apapun rintangan dan medan yang akan dihadapi nanti.

Simaklah kisah Ali bin Abi Thalib yang tak rela ditinggal di tengah keluarganya. Ali mengejar Rasulullah yang ketika itu sudah sampai di wilayah Jurf. Ia memperotes, “Rasulullah, anda tinggalkan aku bersama perempuan dan anak kecil ?”

Rasulullah berusaha membujuk Ali, “Tidakkah engkau bersedia mem-posisi-kan dirimu terhadapku seperti Musa dengan Harun, meskipun tidak ada nabi setelah aku?” [2]

Begitu pula dengan Abu Khaitsamah al-Anshari. Hatinya sempat bimbang dan dihadapkan pada pilihan antara tinggal di rumah atau pergi berperang bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Namun, akhirnya ia dengan tegas memutuskan harus pergi bersama Rasulullah untuk semata-mata mengharap ridha Allah. Tentang hal ikhwalnya ini, Abu Khaitsamah menuturkan, “Aku tidak menyertai Rasulullah berjihad, melainkan pergi ke kebun kurma milikku. Disana kulihat kisi-kisi telah disemprot dengan air dan ada juga istriku. Tiba-tiba aku membatin, ’Sungguh, ini tidak adil! Rasulullah sedang berada di tengah terpaan angin panas dan terik matahari menyengat, sedangkan aku berada di tempat yang teduh dan sejuk begini.’

Aku bangkit sambil mengambil beberapa butir kurma matang, lalu pergi menyusul pasukan kaum Muslimin. Semakin dekat dengan mereka, orang-orang melihatku, kemudian Rasulullah berkata, “Itu Abu Khaitsamah!”
Ketika aku menjumpai beliau, beliau berdoa untukku.[3]

Diriwayatkan, ketika hendak menyusul pasukan kaum muslimin yang sudah berangkat ke Tabuk, unta Abu Dzar justru makin melambat jalannya. Tak sabar, Abu Dzar segera turun dari untanya lalu mengusung perbekalan di punggungnya. Dengan berjalan kaki dia mengikuti jejak pasukan. Beberapa waktu kemudian, ketika Rasulullah sedang beristirahat di salah satu tempat, seorang tentara Muslimin melihat sosok lelaki berjalan seorang diri. Tentara itu memberitahukan kepada Rasulullah perihal tersebut. Beliau berkata dengan tenang, “Itu adalah Abu Dzar.”

Ketika lelaki itu tiba, ternyata memang benar, ia Abu Dzar. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun berdoa untuk Abu Dzar, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Dzar. Ia berjalan seorang diri, meninggal seorang diri, dan kelak dibangkitkan dari kuburnya seorang diri pula.” [4]

Wallahu'alam

Footnote:
  1. Berasal dari riwayat al-Bukhari, al-Fath, 16, 242, hlm.4418.
  2. Al-Bukhari, alFath, 16, 242, no. 4416; Muslim, 4, hh. 1870-1871, no. 2404, dan sarjana lainnya. Al-Jurf disebutkan oleh Ibnu Ishaq dengan jalur periwayatan di tingkatan mursal di Ibnu Hisyam, 4, hlm. 221. Al-Jurf adalah nama sebuah tempat berjarak kurang lebih 3 mil dari Madinah menujuh arah Syam.Lihat Mu’jam al-Buldan, 2, hlm. 187.
  3. Dituturkan oleh Ath-Thabari, sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Hajar di al-Fath, 16, hlm, 244; Ibnu Ishaq dengan kualitas riwayat di tingkat mursal (Ibnu Hisyam, 4, hlm.222); Ibnu Hajar, al-Fath, 16 hlm. 244; al-Waqidi, 3, hh. 998-999. Hadits yang melalui jalur-jalur ini di tingkatan dhoif. Akan tetapi, di persaksikan oleh penuturan sebagian kisahnya di shahih muslim di tengah-tengah tentang ka’ab, 4, 2122, 2769. Abu Khaitsamah adalah Abdullah ibn Khaitsamah as-Salimi, sebagaimana disebutkan oleh al-Waqidi, 3, hlm. 998. Adapun menurut az-Zuhri, Abu Khaitsamah adalah Malik ibn Qais, sebagaiman di sebutkan Ibnu Hajar di Alfath, 16, hlm. 244.
  4. Hadist ini dituturkan oleh al-Hakim di al-Mustadrak, 3, hh. 50-51. Al-Hakim menilai hadits ini sebagai hadits shahih. Pendapatnya ini disepakati oleh adz-Dzahabi. Ia kemudian mengatakan bahwa di hadits ini terdapat irsal. Al-Baihaqi juga meriwayatkannya di ad-Dala’il melalui jalur Ibnu Ishaq. Ia mengaku telah mendengar hadits ini. Di jalur periwayatannya terdapat nama Buraidah ibn Sufyan. Mengenai figur ini ada komentar. Lihat Mizan al-‘Itidal, 1, hlm. 306.Ibnu Katsir ikut meriwayatkannya di al-Bidayah, hh, 10-11, melalui jalur ini, dan menilainya sebagai hadit s Hasan. Ia bahkan menuturkan tentang unta Abu Dzar yang berjalan lambat dan khabar tentang kematiannya, dalam satu paparan riwayat. Di sirah Ibnu Hisyam, Ibnu Ishaq menyebutkan riwayat tentang unta itu di jalur periwayatan di tingkat muallaq, dan al-Baihaqi dan Ibnu Katsir. Riwayat kematian Abu Dzar di sampaikan oleh Ahmad di al-Musnad, al-Fath ar-Rabbani, 922, 374-375 tanpa melalui jalur Ibnu Ishaq, dengan sedikit perbedaan dengan riwayat penuturan al-Hakim.

Main scource: Biografi Rasulullah, Sebuah Studi Analitis Berdasarkan Sumber-Sumber yang Otentik karya Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad

0 Comment for "Perang Tabuk, Bagian 5"

Rasulullah bersabda: “al-Quran akan datang pada hari kiamat seperti orang yang wajahnya cerah. Lalu bertanya kepada penghafalnya, “Kamu kenal saya? Sayalah membuat kamu bergadangan tidak tidur di malam hari, yang membuat kamu kehausan di siang harimu.” Kemudian diletakkan mahkota kehormatan di kepalanya dan kedua orangtuanya diberi pakaian indah yang tidak bisa dinilai dengan dunia seisinya. Lalu orang tuanya menanyakan, “Ya Allah, dari mana kami bisa diberi pakaian seperti ini?” kemudian dijawab, “Karena anakmu belajar al-Qur’an.” (HR. ath-Thabrani)

Back To Top