3 Syarat Agar Tauhid Kita Sempurna atau Bersih

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah saja.” (QS. Muhammad [47] : 19)


Memurnikan tauhid adalah membersihkan tauhid dari noda-noda syirik, bid'ah dan maksiat dengan berbagai bentuk. Banyak atau sedikit. Besar atau kecil. Termasuk tindakkan minimal. Tindakkan tertingginya adalah dengan meninggalkan sesuatu yang mubah, karna tidak bermanfaat, dan ia khawatir akan terhalang dari kenikmatan di akhirat yang lebih berharga.

Ada 3 syarat agar Tauhid kita sempurna atau bersih.

Pertama, memiliki ilmu yang sempurna tentang tauhid. Karena tidak mungkin seseorang membersihkan sesuatu tanpa terlebih dahulu mengetahui dan memahami sesuatu tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah saja.” (QS. Muhammad [47] : 19)

Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk mengilmui terlebih dahulu, sebelum mengucapkan kalimat tauhid.

Kedua, meyakini kebenaran tauhid yang telah diilmuinya. Apabila seseorang hanya mengilmui (mengetahui) saja, akan tetapi tidak meyakininya dan bahkan mengingkarinya, maka dia tidaklah membersihkan tauhidnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang kesombongan orang-orang kafir yang tidak meyakini keesaan Allah sebagai satu-satunya sesembahan, padahal mereka telah memahami makna laa ilaaha illallah, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Mengapa ia (Muhammad) menjadikan sesembahan-sesembahan itu sebagai sesembahan yang satu saja? Sungguh ini adalah suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shad [38] : 5)

Ketiga, mengamalkan tauhid tersebut dengan penuh ketundukan. Jika kita telah mengilmui dan meyakini, akan tetapi kita tidak mau mengamalkannya dengan penuh ketundukan, maka kita belum bersih tauhidnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka,’laa ilaaha illallah’, mereka menyombongkan diri.” (QS. Ash-Shaffat [37] : 35)

Apabila ketiga hal ini telah terpenuhi dan seseorang benar-benar membersihkan serta memurnikan tauhidnya, maka jaminan surga tersedia menjadi miliknya tanpa hisab dan tanpa adzab. Dalam hal ini, kita tidak perlu mengatakan ”In syaa Allah” karena hal tersebut adalah hukum yang telah ditetapkan oleh syari’at. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.

Sumber: Al-Qoulul Muffid, Jilid 1 hal. 91 karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Ragu Buang Angin Ketika Shalat

“Jika salah seorang dari kalian sedang shalat lalu merasakan gerakan di duburnya, hingga ia merasa ragu apakah telah batal atau tidak, janganlah ia membatalkan shalatnya hingga mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Abu Dawud no. 177)


Sebagian dari kita sering merasa buang angin ketika melaksanakan shalat, tapi uniknya justru hal tersebut tidak terjadi ketika diluar shalat. Biasanya yang mengganggu dan membuat was-was adalah merasa buang angin yang kecil seperti ada sesuatu yang terasa di dubur. Atau masyarakat sunda menyebutnya ‘hitut leutik’.

            Jika seseorang mengalami hal ini maka dia telah terkena penyakit was-was yang merupakan bentuk gangguan dari Setan. Jika kita mengalami hal demikian, maka hendaklah kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari godaan Setan yang terkutuk. Janganlah kita pedulikan was-was tersebut, maka gangguan tersebut tidak akan datang lagi dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Akan tetapi jika merasa was-was, maka kita telah terperangkap dalam jeratan Setan dan ia akan mengganggu kita terus menerus.

            Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا، فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنْ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

“Jika salah seorang dari kalian merasakan sesuatu diperutnya, lalu ia ragu apakah telah keluar (angin/kentut) atau tidak, janganlah sekali-kali ia keluar dari masjid, hingga ia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Muslim no. 803)

            Dalam redaksi lain yang diriwayatkan pula dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلَاةِ فَوَجَدَ حَرَكَةً فِي دُبُرِهِ أَحْدَثَ أَوْ لَمْ يُحْدِثْ فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ فَلَا يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

“Jika salah seorang dari kalian sedang shalat lalu merasakan gerakan di duburnya, hingga ia merasa ragu apakah telah batal atau tidak, janganlah ia membatalkan shalatnya hingga mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Abu Dawud no. 177)

Sesuatu yang hanya berdasarkan prasangka atau keraguan tidak dapat dijadikan pedoman untuk memutuskan bahwa wudhu atau shalat kita menjadi batal. Namun harus ada rasa yakin. Ada satu kaedah yang harus dipegang dalam masalah ini yaitu:

اليقين لا يزول بالشك

“Yang yakin tidak bisa dihilangkan dengan ragu-ragu.”

Imam Al-Qarafi rahimahullah dalam kitab Al-Furuq berkata, “Kaedah ini telah disepakati oleh para ulama. Maksudnya adalah setiap ragu-ragu dijadikan seperti sesuatu yang tidak ada yang dipastikan tidak adanya.”
Abu Daud berkata, “Aku pernah mendengar Imam Ahmad ditanya oleh seseorang yang ragu mengenai wudhunya. Imam Ahmad lantas berkata, jika ia berwuhdhu, maka ia tetap dianggap dalam kondisi berwudhu sampai ia yakin berhadats. Jika ia berhadats, maka ia tetap dianggap dalam kondisi berhadats sampai ia berwudhu.” (Masail Al-Imam Ahmad, hal. 12)

Maka intinya, jika kita mengalami rasa was-was seperti merasa buang angin dengan tanda-tanda ada sesuatu yang bergerak di dubur, maka mantapkanlah dan lanjutkanlah shalat karena sesungguhnya itu adalah muslihat Setan untuk membuat kita menjadi was-was dan tidak khusyu. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Andai Saja Dosa Kita Berbau

Muhammad bin Wasi' rahimahullah berkata: “Jika seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan bau, maka tidak seorang pun yang akan duduk denganku.” (Siyar A'lam An-Nubala', Jilid 6 hal. 120)


Setiap saat kita berbuat dosa, berkali-kali baik terasa maupun tidak terasa. Cobalah tengok diri kita yang lemah ini, Kesungguhan iman kita memang tidaklah seperti para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu mudah kita terombang-ambing hingar bingar dunia yang fana ini. Jika para sahabat radhiyallahu ‘anhum sepanjang hidup mereka menghabiskan waktu untuk beribadah, maka bukankah kita hanya melakukannya pada sisa-sisa waktu yang kita punya? Kita akan semakin dekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala pada saat kita berada dalam keterpurukan, mencari tempat untuk mengadu. Setelah semua persoalan kita selesai, dengan entengnya kita kembali menjauh dari-Nya.

Saat kita mendapatkan keberhasilan, kegembiraan meyeruak dalam hati. Lalu mengekspresikannya dengan berlebihan, kita pun lupa ada campur tangan Allah subhanahu wa ta’ala dalam kesuksesan itu, kita tidak bersyukur. Namun Allah tidak marah tetap memberikan kita kesempatan hidup, agar kita mau menginsyafi dan bertobat. Tak ada ruginya bagi Allah subhanahu wa ta’ala kita datang atau tidak. Sedikit pun tidak akan mengurangi kemuliaan dan kebesaran-Nya, tidak akan memperkecil Diri-Nya yang Maha Besar. Dan Allah pun tidak akan berhenti tetap sebagai Dzat tunggal pemegang kuasa di alam semesta ini.

Bagaimana jika Allah subhanahu wa ta’ala murka, lalu mencabut semua nikmat yang dberikannya. Lihatlah apa yang terjadi. Angin saja yang ditiupkannya mampu menghancurkan suatu negeri, bagaimana jika diberikan hukuman yang lebih lagi dari itu. Na’udzu billahi min dzalik.

Allah tidak meminta bayaran terhadap udara yang kita hirup, tidak memungut kontrak terhadap manusia pada buminya yang kita huni. Allah juga membiarkan saja kita menggunakan segala apa yang ada di bumi ini untuk kita manfaatkan. Karena alam memang diciptakan untuk manusia. Namun kita begitu sombong dan angkuh, mengakui segala yang kita miliki ini adalah kepunyaan kita sendiri. Lupa bahwa sebenarnya itu semua hanyalah titipan yang suatu saat nanti akan dimintai pertanggungjawabannya.

Manusia...sadarlah, bangkitlah dari kegelapan. Kembalilah kepada fitrahmu yang suci. Berbuatlah di dunia ini sesuka hatimu, tapi ingatlah lakukanlah kebaikan sebanyak-banyaknya. Mungkin karena Allah subhanahu wa ta’ala masih sayang kepada kita, tidak menjadikan dosa kita berbau, hingga kita masih bisa dengan bangganya berlenggok dengan tumpukan dosa yang menggunung ini. Bahkan kita berjalan dengan sangat gagah seolah kita adalah peri, malaikat yang teramat suci. Baju kesombongan itu melekat di tubuh kita dengan ketatatnya. Tak ada yang tahu betapa di dalamya sudah sangat membusuk dan dikerubuti ulat-ulat yang penuh nanah, sungguh sangat menjijikkan.

Dengarlah wejangan dari para salaf kita, Muhammad bin Wasi' rahimahullah berkata: “Jika seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan bau, maka tidak seorang pun yang akan duduk denganku.” (Siyar A'lam An-Nubala', Jilid 6 hal. 120). Juga dengarlah nasihat dari ulama kita yaitu Ust. K.H. Abdullah Gymantsir hafizhahullah, beliau berkata: “Bayangkan seandainya jika kita berbuat dosa maka akan tumbuh jerawat sebesar biji kelereng di wajah kita... bagaimana wajah kita sekarang?? Bersyukurlah Allah tetap menutupi dosa-dosa kita selama ini.”

Masih ada waktu untuk terus berbenah, belum terlambat agar bisa melakukan perbaikan diri. Pagi selalu menyapa dengan kesejukan embun yang ditaburnya. Siang pun akan terus menjelang dengan terikan mentari yang menghangatkan, hingga tidak beku dalam kedinginan balutan embun. Bahkan malam pun akan menjelang dengan bulan berhias bintang-bintang yang memanjakan mata. Pintu tobat masih akan selalu terbuka, meskipun dosa sebanyak buih di lautan karena ampunan Allah subhanahu wa ta’ala itu begitu Maha luasnya.

Dalam sebuah hadits qudsi, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى: يَا ابْنَ آدَمَ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً

“Allah azza wa jalla berfirman: ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” (HR. At-Tirmidzi no. 3540)

Bisa Jadi Yang Baik Menurut Kita Belum Tentu Baik Menurut Allah

“Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  (QS. Al-Baqarah [2] : 216)



Wahai Ikhwah? Aku ingin bercerita sesuatu yang mungkin menarik bagimu.

Sebelumnya aku ingin menjelaskan, jika sejak dulu aku tidak mempunyai sepeda. Saat aku masih kecil, pernah ada kesempatan untukku mempunyai sepeda, namun karena ada masalah ekonomi keluarga, orang tuaku tidak bisa membelikanku saat itu.

Memasuki usia remaja, hal yang sama kembali terulang. Aku tidak memiliki sepeda motor layaknya teman-temanku. Lagi-lagi karena masalah ekonomi. Sempat terbesit perasaan iri di dadaku. Melihat temanku berpergian menggunakan sepeda motor atau saat melihat mereka bergaya dengan sepeda motor keluaran terbaru yang mereka miliki.

Terkadang aku merasa sedih. Apa yang kuinginkan selalu tidak bisa kumiliki. Seperti ingin mempunyai Nintendo. Dulu, hampir mayoritas anak laki-laki dilingkunganku punya Nintendo. Aku sudah menabung untuk membelinya  namun tetap tidak bisa. Aku harus mengalah kepada keadaan. Keluargaku sedang mengalami pailit. Sehingga kuserahkan tabunganku untuk membantu orang tuaku.

Tapi tahukah engkau? Berkat didikan yang diberikan oleh orang tuaku sejak dulu; hidup sederhana dan senantiasa bersyukur. Aku tidak tumbuh menjadi seseorang yang selalu iri terhadap kepunyaan orang lain. Hingga suatu hari aku tersadar, ditengah ketidakpunyaanku mengenai suatu barang tertentu, aku menjadi pribadi yang lebih mandiri.

Contohnya ketika banyak orang pergi kemana-mana naik motor, aku tidak harus menuntut untuk pergi ke suatu tempat juga harus dengan motor. Yang membuatku aneh, ada beberapa temanku yang walaupun hendak keluar rumah yang jarak tujuannya tidak lebih dari sepelemparan batu, harus menggunakan motor. Padahal menurutku berjalan kaki sedikit tidak masalah. Karena itulah, aku bersyukur, aku tidak sampai menggantungkan hidupku dengan adanya motor.

Atau contoh lain, ketika aku kehabisan uang, baik di akhir bulan atau tidak, aku tetap bisa berbahagia. Karena bagiku bukan uanglah yang harus menjadi ukuran kebahagiaan dalam hidup. Tetapi kesyukuran yang akan selalu membuat diriku senantiasa bahagia.

And the congclution is, aku menyadari, bahwa ketidakpunyaan itu mengajari kita hidup secara mandiri dan tidak menggantungkan diri kepada apapun untuk bisa hidup. Karena hidup terus berjalan dan tidak menunggu kita sudah mempunyai hal yang kita butuhkan atau belum untuk hidup.

Dan mungkin kita merasa bahwa yang kita inginkan itu penting untuk kita. Namun sebenarnya Allah lebih tahu mana yang lebih penting untuk diri kita. Karena bisa jadi yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  (QS. Al-Baqarah [2] : 216)

Karena kita tidak selalu mendapatkan apa-apa yang kita inginkan, maka belajarlah untuk memahami apa yang kita butuhkan. Barangkali dengan itu kita akan selalu bisa ikhlas pada setiap takdir yang sudah Allah tetapkan dikehidupan kita masing-masing.
Kisah Nabi Asy'ayaa ‘Alaihis Salam

Kisah Nabi Asy'ayaa ‘Alaihis Salam

“Dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan, “Baiklah baca ini.” Maka ia akan menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” (Perjanjian Lama, Kitab Yesaya [29] : 12)

Nabi Asy’ayaa ‘alaihis salam adalah salah seorang 12 nabi-nabi kecil Bani Israil yang tidak tercatat namanya dalam Al-Quran, namun beliau adalah seorang nabi kepada kaum Bani Israil. Beliau juga mempunyai kitab sendiri hasil penulisannya yang dipanggil kitab Yesaya. Beliau merupakan nabi yang diutus kepada Suku Yudea salah satu suku Bani Israil yang mendeklarasikan bahwa seluruh dunia berada dalam pengendalian Allah subhanahu wa ta’ala dan memperingatkan masyarakatnya bahwa negeri mereka akan dimusnahkan apabila mereka berpaling dari ajaran Allah subhanahu wa ta’ala dalam kitab Taurat. Beliau adalah putra dari Amshoya yang disebut pula sebagai salah satu dari 12 nabi-nabi kecil Bani Israil. (Perjanjian Lama, Kitab Yesaya [1] : 1)

Nabi Asy’ayaa ‘alaihis salam hidup di zaman pemerintahan kerajaan Yahuda dibawah pemerintahan 4 orang raja iaitu Uzziah, Yotham, Ahaz dan Hezekiah. Raja Uzziah mentadbir kerajaan Yahuda selama 52 tahun yaitu pada pertengahan abad ke 8 SM dan kemungkinan Nabi Asy’ayaa ‘alaihis salam memulai tugas kenabiannya sebelum kematian Uzziah yaitu pada 740 SM. Beliau hidup hingga 14 tahun pemerintahan Raja Hezekiah yakni 698 SM dan kemungkinan juga hidup pada zaman pemerintahan Manasseh. Jadi Nabi Asy’ayaa ‘alaihis salam mungkin telah bernubuat untuk waktu yang cukup panjang sekurang-kurangnya enam puluh empat tahun. Nabi Asy’ayaa ‘alaihis salam juga hidup ketika berada di bawah pemerintahan kerajaan Assyria yaitu ketika pemerintahan Tiglath-Pileser III dan Shalmaneser V dari Sumeria yang telah menghancurkan kerajaan Yahuda ketika beliau masih muda.

Menurut Ibnu Ishaq rahimahullah, Nabi Asy’ayaa ‘alaihis salam telah diutus kepada Bani Israil sebelum Nabi Zakaria ‘alaihis salam dan Nabi Yahya ‘alaihis salam dan beliau juga telah bernubuat tentang kedatangan Nabi Isa ‘alaihis salam dan juga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam kitab Yesaya dikatakan:

“Dan apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan, “Baiklah baca ini.” Maka ia akan menjawab, “Aku tidak dapat membaca.” (Perjanjian Lama, Kitab Yesaya [29] : 12)

Ayat dalam kitab Yesaya ini sangatlah sama dengan apa yang terjadi pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika pertama kali mendapatkan wahyu di gua hira.

Diriwayatkan bahwa Hezekiah adalah raja yang memerintah Yerusalem ketika Nabi Asy’ayaa ‘alaihis salam masih hidup. Hezekiah sentiasa patuh dan mendengar nasihat Nabi Asy’ayaa ‘alaihis salam tetapi tetap dengan pendiriannya karena ketika itu keadaan di Yahuda sangat meruncing. Keadaan semakin meruncing ketika kematian raja Yahuda itu. Setelah kematian raja itu, Nabi Asy’ayaa ‘alaihis salam telah mengatakan kepada Bani Israil untuk tidak melupakan Allah subhanahu wa ta’ala dan beliau memperingatkan mereka bahwa mereka harus berhenti dari terus-menerus melakukan dosa dan juga kemaksiatan dan beliau mendakwahkan agar Bani Israil taat dan patuh pada ajaran Taurat. Namun kaum Bani Isral malah menolak dan mereka marah serta berusaha untuk membunuh Nabi Asy’ayaa ‘alaihis salam. Dikisahkan bahwa Asy’ayaa ‘alaihis salam akhirnya dibunuh oleh kaum Bani Israil yang kafir dengan cara badannya digergaji.
Kisah Nabi Aramiya ‘Alaihis Salam dan Kehancuran Kerajaan Yahuda

Kisah Nabi Aramiya ‘Alaihis Salam dan Kehancuran Kerajaan Yahuda

“Aku hingga kini masih berada dalam perlindungan Allah selama aku tidak menyimpang dari ketaatan terhadap-Nya sesaat pun. Andai saja Bani Israil tidak menyimpang ketaatan terhadap-Nya, tentu mereka tidak takut kepadamu atau yang lain dan kau tidak akan bisa menguasai mereka.”

Nabi Aramiya ‘alaihis salam adalah salah satu nabi yang diutus untuk Bani Israil sebelum kerajaan Yahuda ditaklukan oleh Nebukadnezar dan penduduknya dibuang ke Babilonia. Beliau lahir di Anatot dan hidup sekitar tahun 645 SM tidak lama setelah Raja Manasyi berakhir. Nabi Aramiya ‘alaihis salam adalah anak dari Hilkia. Menurut Perjanjian Lama, Nabi Aramiya ‘alaihis salam diangkat menjadi nabi ketika beliau masih muda dan belum pandai berbicara yaitu pada masa Raja Yosia pada tahun 627 M. (Perjanjian Lama, Kitab Yeremia [1] : 6). Nabi Aramiya ‘alaihis salam menjadi nabi selama pemerintahan lima raja kerajaan Yahuda, yaitu pada masa Yosia, Yoahas, yoyakin, Yoyakhim dan Zedekia. Nabi Aramiya ‘alaihis salam tidak disebutkan dalam Al-Quran, akan tetapi tertulis dalam Tafsir serta banyak sastra Islam yang menceritakan mengenai kehidupan beliau dan tradisi yang berasal darinya. Ada sastra Islam yang mencatat kehancuran Yerusalem yang paralel dengan kisah yang dicatat dalam Perjanjian Lama Kitab Yeremia. (Tarikh Ath-Thabari, Jilid 1 hal. 646)

Ibnu Katsir rahimahullah menceritakan dengan menukil apa yang dinyatakan oleh Ibnu Asakir rahimahullah: Nabi Aramiya ‘alaihis salam menyampaikan kepada kaumnya tentang azab Allah subhanahu wa ta’ala yang akan meliputi segala sesuatu, namun Bani Israil menyambut dakwahnya dengan kebohongan dan kemaksiatan dan mereka menuduhnya dengan kebohongan. Nabi Aramiya ‘alaihis salam menyampaikan firman Allah subhanahu wa ta’ala, beliau berkata: “Duhai Ilya (Palestina) dan penghuninya, bagaimana mereka dihinakan dengan pembunuhan dan mereka menjadi tawanan-tawanan yang hina, tempat-tempat istana mereka yang mengagumkan menjadi tempat-tempat tinggalnya hewan-hewan buas. Aku akan menghancurkan mereka dengan berbagai azab. Jika langit menurunkan hujan di atas bumi, maka bumi tidak akan tumbuh. Bila tumbuh suatu tumbuhan di bumi, maka itu adalah sebagai rahmat-Ku terhadap binatang- binatang. Jika mereka menanam sesuatu, maka tanaman mereka akan dikuasai oleh hama dan jika ada tumbuhan yang selamat darinya, maka Aku akan cabut darinya keberkahan, dan jika mereka berdoa Aku tidak akan mengabulkan dan jika mereka meminta, maka Aku tidak akan memberi dan jika mereka menangis, maka aku tidak akan menyayangi, dan jika mereka berusaha bersikap rendah diri, maka Aku akan memalingkan wajah-Ku dari mereka.”

Mereka berkata kepadanya, “Bagaimana engkau berbohong dan mengaku bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan menghancurkan bumi-Nya dan masjid-masjid-Nya lalu siapa yang akan menyembah-Nya jika tidak ada seorang pun di muka bumi yang menyembah-Nya, juga tidak ada masjid dan tidak ada Kitab. Sungguh engkau telah gila wahai Aramiya.”

Akhirnya pertentangan antara Nabi Aramiya ‘alaihis salam dan kaumnya berakhir pada pemenjaraannya dan Nabi Aramiya ‘alaihis salam pernah mengatakan: “Wahai Tuhanku! andai saja ibuku tidak melahirkanku. kala Engkau menjadikanku sebagai nabi terakhir Bani Israil, artinya kehancuran Baitul Maqdis dan kebinasaan Bani Israil disebabkan karena aku.”

Pada saat yang sama, datanglah pasukan Nebukadnezar menuju mereka. Orang-orang Bani Israil terkejut ketika mendengar suara derap kaki kuda dan suara panah-panah yang melayang dan bau kebakaran. Pasukan itu memasuki desa-desa dan kota-kota. Mereka mengelilingi segenap penjuru kota dan desa. Pemimpin pasukan itu menyerbu orang-orang Bani Israil dan menghancurkan mereka. Sepertiga dibunuh, sepertiga ditawan, sementara sepertiga lagi yaitu wanita-wanita tua dan lelaki-lelaki tua dibiarkan hidup.

Baitul Maqdis dihancurkan dan tempat ibadah itu pun hancur. Orang-orang laki-laki dibunuh dan benteng-benteng kukuh pun dibakar, kitab Taurat di bakar, bahkan ulama-ulamanya dan fuqaha-fuqahanya dibunuh dan tak seorang pun hidup di antara mereka. Jumlah tawanan yang berasal dari anak-anak para pendeta dan para raja yang mereka bawa mencapai 90.000 orang. Masjid-masjid yang ada di baitul maqdis dilempari kotoran, babi-babi disembelih di dalamnya. diantaranya 7000 tawanan dari keluarga Nabi Daud ‘alaihis salam, dan sisanya keturunan dari anak- anak Nabi Yaqub ‘alaihis salam yang lainnya serta kaum Bani Israil biasa.

Rumah-rumah orang-orang Bani Israil tidak lagi dihuni kecuali oleh burung hantu dan binatang buas. Lalu sebagian orang-orang dari Bani Israil meninggalkan tempat itu dan tempat itu pun menjadi tempat yang tandus untuk waktu yang lama sehingga Allah subhanahu wa ta’ala mengizinkan kepada sebagian cucu atau keturunan dari kaum itu untuk kembali dan mereka pun kembali. Selama terjadi peristiwa yang berdarah tersebut, Nabi Uzair ‘alaihis salam sedang tertidur yang dikisahkan beliau tertidur selama 100 tahun dan dialah satu-satunya yang menjaga Taurat.

Ishaq bin Bisyr rahimahullah menuturkan, dari Wahab bin Munabbih rahimahullah, dia berkata: “Setelah Nebukadnezar menjalankan aksinya itu, ada yang berkata kepadanya, mereka (Bani Israil) punya seorang teman yang mengingatkan akan tertimpa seperti telah menimpa mereka itu. menyebut-nyebut namamu dan berita tentangmu, ia juga memberitahu mereka bahwa kau akan membunuh mereka dalam jumlah besar, menawan istri-istri dan anak-anak mereka, meruntuhkan dan membakar masjid-masjid mereka. tapi mereka mendustakannya, menuduhnya yang bukan-bukan, memukulnya, mengikatnya dan menahannya

Nebukadnezar kemudian memerintahkan agar Nabi Aramiya ‘alaihis salam dikeluarkan dari penjara. Nebukadnezar lalu bertanya kepadanya: “Apa benar kau sudah mengingatkan mereka akan tertimpa kejadian seperti itu?” Nabi Aramiya ‘alaihis salam menjawab: “Ya.” Nebukadnezar bertanya: “Bagaimana kau mengetahuinya?” Nabi Aramiya ‘alaihis salam menjawab: “Allah mengutusku kepada mereka, tapi mereka mendustakanku.” Nebukadnezar bertanya: “Apa mereka mendustakan, memukul dan memenjarakanmu?” Nabi Aramiya ‘alaihis salam menjawab: “Ya.” Nebukadnezar kemudian berkata: “Seburuk-buruk kaum adalah kaum yang mendustakan nabi mereka dan mendustakan risalah Tuhan mereka, maukah kau bergabung denganku, aku akan memuliakanmu dan membantumu, tapi jika kau ingin tetap tinggal di negerimu, aku telah memberimu jaminan keamanan.” Maka Nabi Aramiya ‘alaihis salam berkata kepadanya: “Aku hingga kini masih berada dalam perlindungan Allah selama aku tidak menyimpang dari ketaatan terhadap-Nya sesaat pun. Andai saja Bani Israil tidak menyimpang ketaatan terhadap-Nya, tentu mereka tidak takut kepadamu atau yang lain dan kau tidak akan bisa menguasai mereka.” Mendengar kata-katanya itu, Nebukadnezar meninggalkannya, lalu Nabi Aramiya ‘alaihis salam tetap tinggal di tempatnya, di negeri Ilya (Palestina) dan meninggal disana sekitar tahun 580 SM.

Puasa Tarwiyah

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijjah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya.” (HR. Abu Daud no. 2437)


Dimasyarakat sering kita mendengar istilah puasa Tarwiyah. Apa itu puasa Tarwiyah? Sebelum menjelaskan apa itu puasa Tarwiyah, maka kita harus mengetahui makna dari Tarwiyah itu sendiri. Tarwiyah (تروية) berasal dari kata Irtawa - Yartawi (ارتوى – يرتوي) yang bermakna banyak minum. Disebut Tarwiyah karena pada hari itu, para jama’ah haji membawa banyak perbekalan air zam-zam untuk persiapan wukuf di Arafah dan menuju Mina, mereka minum untuk diri mereka sendiri, memberi minum hewan tunggangannya dan membawa air zam-zam itu dalam wadah.

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah menjelaskan asal penamaan ini, beliau berkata:

سمي بذلك لأنهم كانوا يتروون من الماء فيه، يعدونه ليوم عرفة. وقيل: سمي بذلك؛ لأن إبراهيم عليه السلام رأى ليلتئذ في المنام ذبح ابنه، فأصبح يروي في نفسه أهو حلم أم من الله تعالى؟ فسمي يوم التروية

“Dinamakan demikian, karena para jamaah haji, mereka membawa bekal air pada hari itu, yang mereka siapkan untuk hari arafah. Ada juga yang mengatakan, dinamakan hari Tarwiyah, karena Nabi Ibrahim ’alaihis salam pada malam 8 Dzulhijjah, beliau bermimpi menyembelih anaknya. Di pagi harinya, beliau yarwi (berbicara) dengan dirinya, apakah ini mimpi kosong ataukah wahyu Allah? Sehingga hari itu dinamakan hari tarwiyah.” (Al-Mughni, Jilid 3 hal. 364)

            Kembali ke masalah puasa Tarwiyah. Apakah puasa Tarwiyah itu? Adakah dalil yang melandasi hal ini? Di masyarakat, puasa Tarwiyah ini sering dilaksanakan karena mereka beranggapan bahwa puasa Tarwiyah ini memiliki fadhilah yang besar yaitu bahwa puasa Tarwiyah ini dapat menghapuskan dosa selama satu tahun. Hadits yang menjadi landasan dalam puasa Tarwiyah ini adalah hadits marfu’ dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَوْمُ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ كَفَّارَةُ سَنَةٍ، وَصَوْمُ يَوْمِ عَرفَةَ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ



“Puasa pada hari tarwiyah menghapuskan (dosa) satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun.” (HR. Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firadus, 2/248)

            Hadits ini memiliki sanad dari Imam Ad-Dailami dari Abu Syaikh dari Ali bin Ali Al-Himyari dari Kalbi dari Abi Shalih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Para ulama ahli hadits telah sepakat bahwa hadits ini derajatnya Maudhu’ (Palsu). Sanad hadits ini mempunyai dua penyakit:

Pertama, Kalbi yang namanya lengkapnya adalah Muhammad bin Saib Al-Kalbi. Dia ini seorang rawi pendusta. Dia pernah mengatakan kepada Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah, “Apa-apa hadits yang engkau dengar dariku dari jalan Abi Shalih dari Ibnu Abbas, maka hadits ini dusta.” Sedangkan hadits di atas Kalbi meriwayatkan dari jalan Abi Shalih dari Ibnu Abbas.

Imam Al-Hakim An-Naisyaburi rahimahullah berkata: “Ia (Kalbi) meriwayatkan dari Abi Shalih hadits-hadits yang maudhu’ (palsu).”

Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Hadits ini disebutkan oleh Ibnu Adi dari Aisyah secara marfu’. Hadis ini tidak shahih, dalam sanadnya terdapat perawi bernama Kalbi, seorang pendusta.” (Al-Fawaid Al-Majmu’ah, Juz 1 hal. 45)

Tentang Kalbi ini dapatlah dibaca lebih lanjut di kitab-kitab Jarh wat Ta’dil:
1.       At-Taqrib 2/163 oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah
2.       Adh-Dhu’afa 2/253, 254, 255, 256 oleh Imam Ibnu Hibban rahimahullah
3.       Adh-Dhu’afa wal Matrukin no. 467 oleh Imam Ad-Daruquthni rahimahullah
4.       Al-Jarh wat Ta’dil 7/721 oleh Imam Ibnu Abi Hatim rahimahullah
5.       Tahdzibut Tahdzib 9/5178 oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah

Kedua, Ali bin Ali Al-Himyari adalah seorang rawi yang majhul (tidak dikenal).

Bolehkah Kita berpuasa di hari Tarwiyah?

Secara zhahir puasa khusus di hari Tarwiyah adalah Bid’ah karena berlandaskan hadits maudhu’ (palsu) yang sudah dijelaksan di atas. Akan tetapi perlu ditekankan pula bahwa tidak ada larangan berpuasa di hari Tarwiyah, karena selama bulan Dzulhijjah ini kita tetap dianjurkan berpuasa selama tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah, dan kita semua tahu bahwa hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) masuk ke dalam rentang waktu itu. Sebagaimana hadits dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijjah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya.” (HR. Abu Daud no. 2437)

Selain berpuasa, kita pun dianjurkan untuk meningkatkan amal ibadah kita selama 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada hari dimana suatu amal salih lebih dicintai Allah melebihi amal salih yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh, pen.).” (HR. Abu Dawud no. 2438, At-Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727 dan Ahmad no. 1968)

Tarjih

            Melihat hadits yang dijadikan landasan pelaksanaan puasa Tarwiyah ini berasal dari hadits maudhu’ (palsu) maka pelaksanaan puasa Tarwiyah adalah dilarang dan jika tetap dilaksanakan dengan niat melaksanakan puasa Tarwiyah maka hukumnya Bid’ah. Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

“Setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An-Nasa’i no. 1578)

Dan juga perlu diperhatikan, setelah kita mengetahui kepalsuan hadits puasa Tarwiyah ini maka kita dilarang menyebarkan hadits ini karena menyebarkan hadits palsu bukan dengan maksud menerangkan kepalsuannya kepada umat adalah suatu dosa yang besar karena hal itu merupakan berdusta atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas orang yang lain. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 1229)

            Akan tetapi perlu ditekankan pula bahwa kita diperbolehkan berpuasa pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dengan niat melaksanakan puasa Dzulhijjah bukan pengkhususan puasa Tarwiyah karena ada dalil yang menyunnahkan kita untuk memperbanyak berpuasa di 9 hari pertama bulan Dzulhijjah. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Puasa Arafah

“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)


Salah satu amalan yang utama di bulan Dzulhijjah adalah puasa Arafah. Puasa Arafah adalah puasa yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah ketika jama’ah haji sedang wukuf di Padang Arafah. Puasa ini dilaksanakan hanya bagi kaum muslimin yang tidak melaksanakan ibadah haji. Hukum puasa Arafah ini sunnah muakkadah, sangat ditekankan karena keutamaannya luar biasa.

Mengenai keutamaan puasa Arafah, terdapat sebuah riwayat yang menjelaskan hal ini. Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Adapun hukum puasa Arafah menurut Imam Asy-Syafi’i dan ulama Syafi’iyah: disunnahkan puasa Arafah bagi yang tidak berwukuf di Arafah. Adapun orang yang sedang berhaji dan saat itu berada di Arafah, menurut Imam Asy-Syafi’ secara ringkas dan ini juga menurut ulama Syafi’iyah bahwa disunnahkan bagi mereka untuk tidak berpuasa karena adanya hadits dari Ummul Fadhl.”

Sebagaimana penjelasan Imam An-Nawawi rahimahullah di atas, bahwasanya puasa Arafah hanya untuk kaum muslimin yang tidak wukuf. Adapun kaum muslimin yang berhaji tidak disunnahkan untuk melaksanakan puasa Arafah. Riwayat yang dijadikan dalil adalah hadits dari Ummul Fadhl radhiyallahu ‘anha:

عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ

“Dari Ummul Fadhl binti Al-Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari Arafah tentang puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka mengatakan, ‘Beliau berpuasa.’ Sebagian lainnya mengatakan, ‘Beliau tidak berpuasa.’ Maka Ummul Fadhl mengirimkan semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta beliau, maka beliau meminumnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1988 dan Muslim no. 1123).

            Hal ini semakin dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Maimunah radhiyallahu ‘anha yang merupakan saudara kandung dari Ummu Fadhl radhiyallahu ‘anha, dan haditsnya pun memiliki matan yang hampir sama. Besar kemungkinan saat itu yang memberikan air susu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka berdua.

عَنْ مَيْمُونَةَ رضى الله عنها أَنَّ النَّاسَ شَكُّوا فِى صِيَامِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ عَرَفَةَ ، فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِحِلاَبٍ وَهْوَ وَاقِفٌ فِى الْمَوْقِفِ ، فَشَرِبَ مِنْهُ ، وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ

“Dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa orang-orang saling berdebat apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Arafah. Lalu Maimunah mengirimkan pada beliau satu wadah (berisi susu) dan beliau dalam keadaan berdiri (wukuf), lantas beliau minum dan orang-orang pun menyaksikannya.” (HR. Al-Bukhari no. 1989 dan Muslim no. 1124)

Mengenai pengampunan dosa dari puasa Arafah, para ulama berselisih pendapat. Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah dosa kecil. Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan: “Jika bukan dosa kecil yang diampuni, moga dosa besar yang diperingan. Jika tidak, moga ditinggikan derajat.” (Syarh Shahih Muslim, Jilid 8 hal. 51)

Lalu bagaimana pelaksanaan puasa Arafah ini? Apakah hari Arafah didasarkan atas penetapan pemerintah Saudi Arabia, terkait dengan pelaksanaan wukuf di Arafah, ataukah berdasarkan ketetapan daerah setempat misalnya berdasarkan hasil hisab dan rukyah di Indonesia? Jawabnya adalah kesunnahan puasa Arafah bukan didasarkan adanya wukuf, tetapi karena datangnya hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah. Maka bisa jadi hari Arafah di Indonesia berbeda dengan di Saudi Arabia. Toleransi terhadap adanya perbedaan ini didasarkan atas hadits Kuraib, beliau berkata:

اَنَّ اُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ بَعَثَتْهُ اِلَى مُعَاوِيَةَ باِلشَّامِ قاَلَ كُرَيْبٌ: فَقَدِمْتُ الشَّامَ فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَاَنَا باِلشَّامِ فَرَاَيْتُ الْهِلاَلَ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِيْنَةَ فِيْ اَخِرِ الشَّهْرِ فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلاَلَ فَقَالَ: مَتىَ رَأَيْتُمُ الْهِلاَلَ؟ فَقُلْتُ: رَاَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ فَقَالَ: اَنْتَ رَاَيْتَهُ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ وَرَآهُ النَّاسُ وَصَامُوْا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ فَقَالَ: لَكِنَّا رَاَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ فَلاَ نَزَالُ نَصُوْمُ حَتىَّ نُكْمِلَ الثَّلاَثِيْنَ اَوْ نَرَاهُ فَقُلْتُ: اَوَ لاَ تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَ صِيَامِهِ؟ فَقَالَ: لاَ هَكَذَا اَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ

“Sesungguhnya Ummul Fadhl binti Al-Harits mengutus Kuraib menemui Mu’awiyah di Syam. Kuraib berkata: Aku tiba di Syam. Lalu aku tunaikan keperluan Ummul Fadhl. Dan terlihatlah hilal bulan Ramadlan olehku, sedang aku masih berada di Syam. Aku melihat hilal pada malam Jum’at. Kemudian aku tiba di Madinah di akhir bulan Ramadhan. Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku, dan ia menyebut hilal. Ia berkata: “Kapan kamu melihat hilal?” Aku berkata: “Malam Jum’at.” Dia bertanya: “Apakah kamu sendiri melihatnya?” Aku menjawab: “Ya, dan orang-orang juga melihatnya. Mereka berpuasa, demikian juga Mu’awiyah.” Dia berkata: “Tetapi kami melihat hilal pada malam Sabtu, maka kami tetap berpuasa sehingga kami sempurnakan 30 hari atau kami melihat hilal.” Aku bertanya: “Apakah kamu tidak cukup mengikuti rukyah Mu’awiyah dan puasanya?” Lalu dia menjawab: “Tidak, demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kami.” (HR. Muslim no. 1087)

Seandainya waktu puasa Arafah di dunia ini harus mengikuti waktu wuquf di Arafah yang dilakukan di Makah, maka ini akan timbul konsekwensi yang tidak ada satu pun umat Islam berpendapat demikan. Misalnya kalau puasa di sebuah negeri yang perbedaan waktu antara negeri itu dan Makkah mencapai dua belas jam, ini tentunya kalau siang di Makkah, maka di negeri tersebut dalam keadaan malam. Maka apakah penduduk muslim negeri tersebut harus puasa pada`malam itu, bukan siangnya? Karena mengikuti waktu wukuf di Arafah yang sedang dilaksanakan di Makkah. Tentu tidak ada ulama yang berpendapat seperti ini. Dengan memahami logika ini, maka kita harus menjelaskan bahwa puasa Arafah tidak berhubungan dengan adanya wukuf, tetapi karena datangnya hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah. Maka bisa jadi hari Arafah di Indonesia berbeda dengan di Saudi Arabia. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Rasulullah bersabda: “al-Quran akan datang pada hari kiamat seperti orang yang wajahnya cerah. Lalu bertanya kepada penghafalnya, “Kamu kenal saya? Sayalah membuat kamu bergadangan tidak tidur di malam hari, yang membuat kamu kehausan di siang harimu.” Kemudian diletakkan mahkota kehormatan di kepalanya dan kedua orangtuanya diberi pakaian indah yang tidak bisa dinilai dengan dunia seisinya. Lalu orang tuanya menanyakan, “Ya Allah, dari mana kami bisa diberi pakaian seperti ini?” kemudian dijawab, “Karena anakmu belajar al-Qur’an.” (HR. ath-Thabrani)

Back To Top