Korupsi dan Keyakinan Banyak Orang

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘kami beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut [29] : 2-3)


Berbicara tentang korupsi, semua orang pasti memiliki pendapatnya masing-masing. Mengenai hukuman yang harus ditimpakan kepada koruptor sampai kepada pertanyaan konvensional kenapa di negara kita banyak sekali koruptor. Ya, saya yakin setiap orang mempunyai pendapat yang berbeda-beda. Tapi saya rasa tidak ada perbedaan pendapat bahwa koruptor adalah sebuah kejahatan yang harus dimusnahkan.

Mengenai itu, ada sedikit kenyataan yang menggelitik bagi saya. Saya percaya, setiap orang di negara ini pasti tidak setuju jika haknya diambil, yang berarti mereka pasti geram kepada setiap tindakan korupsi, yang berarti pula bahwa mereka membenci tindakan koruptor. Tetapi apakah benar begitu kenyataannya?

Marilah kita tanya pada diri masing-masing. Sudahkah kita membenci tindakan korupsi sebagaimana kita membenci tindakan pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, dan berbagai tindak kejahatan tingkat atas lainya jika menimpa keluarga atau orang yang kita cintai, sudahkah kita?

Saya ingin berbagi sedikit pengalaman pribadi. Ceritanya berawal ketika saya bekerja pada salah satu kementerian di negeri ini. Tentu tidak bermaksud memojokkan sebuah instansi atau seseorang. Waktu itu adalah kali pertama saya bekerja disebuah instansi milik pemerintah. Saya masih sangat hijau sekali pada saat itu. Selain dari segi usia juga segi pengalaman kerja.

Seiring berjalannya waktu saya pun mulai dapat melihat keganjilan-keganjilan yang terjadi. Tentu saja hal ini mengenai uang di Direktorat tempat saya bekerja. Perasaan ganjil itu muncul setiap kali ada salah seorang pimpinan di Direktorat saya mentraktir makan siang bagi seluruh karyawan, termasuk saya. Pada awalnya saya menganggap bahwa pimpinan tersebut hanya orang yang berhati baik karena sering sekali mentraktir makan siang. Tentu saja saya tertipu,  karena saya akui, saya memang masih teramat polos dan tidak terlalu paham mengenai dunia kerja.

Tetapi suatu hari ada seorang karyawan yang juga teman saya berkata, “Mas, itu bukan dari uang pribadi dia, tetapi dari uang kas kantor kita, darimana dia punya uang untuk mentraktir orang sebanyak ini, apalagi mentraktirnya bisa seminggu satu kali.”

Saya sempat menduga-duga saat itu, tetapi saya berusaha untuk berpikir positif dan tidak terlalu menanggapi.

Waktupun berjalan seperti biasa dan ‘perkataan itu’ semakin sering saya dengar. Hingga akhirnya saya bertanya kepada diri saya sendiri. “Apa benar demikian?”

Pertanyaan saya pun terjawab ketika saya teringat bahwa setiap kali selesai makan siang yang ditraktir tersebut, pasti semua karyawan yang mendapatkan jatah makanan diminta untuk tanda tangan. Dan dilembar untuk tanda tangan tersebut tertera pernyataan ‘konsumsi untuk rapat tanggal sekian bulan sekian’. Padahal tidak rapat sama sekali. Biaya yang habis dipakai untuk makan siang itu pun tidak ditulis yang sebenarnya, angkanya lebih besar daripada seharusnya.

Pada hari kesekian saya menanyakan kepada pegawai yang membuat lembar tanda tangan untuk konsumsi rapat itu. Dan yang mengejutkan, saya mendapatkan konfirmasi positif mengenai dugaan korupsi dari ‘konsumsi rapat’ pimpinan tersebut. Jika saya telisik, hampir 30% - 40% karyawan dikantor saya tidak suka dengan perilaku pimpinan saya yang menggelapkan uang dari uang untuk konsumsi rapat. Sisanya ada yang saya yakini memang biasa-biasa saja dengan tindakan pimpinan tersebut, sebagian ada yang saya yakini menghalalkan, sebagian ada yang belum saya yakini pasti pendapatnya karena kedekatan saya dengan beberapa orang agak terbatas. Mungkin mereka yang tidak suka, tidak berdaya untuk melawan tindakan pimpinan tersebut atau... entahlah, saya tidak berani berasumsi macam-macam. Tetapi yang jelas korupsi itu terjadi didepan mata saya dan amat jelas.

Tidak selesai sampai disitu, Direktorat tempat saya bekerja juga memperkenalkan kepada saya praktik “Pinjam Nama”, yaitu sebuah cara yang menurut beberapa orang di kantor saya sebagai cara untuk menghabiskan dana realisasi Direktorat. Jelasnya, praktik pinjam nama adalah meminjam beberapa nama orang yang sudah ditentukan untuk dicantumkan ke dalam surat tugas pada suatu kegiatan tetapi nama yang bersangkutan tidak hadir dalam kegiatan tersebut. Hanya namanya saja yang dipinjam untuk dimasukkan kedalam surat tugas. Menurut saya pribadi, ini adalah sebuah kebohongan. Namun, bagi beberapa orang tentu hal ini sangat menguntungkan. Karena mereka bisa mendapatkan uang tanpa harus bekerja. Sederhananya, itu adalah surat tugas fiktif.

Saya tidak habis pikir, para oknum yang terlibat dalam praktik pinjam nama ini akalnya kemana, padahal ditempat lain masih banyak manusia yang berpanas-panasan membanting tulang, bahkan mengemis dijalanan membawa serta anak mereka yang masih kecil hanya untuk mendapatkan sedikit makanan yang bisa dibeli untuk menyambung hidup. Melihat kenyataan ini saya tidak heran kalau banyak masyarakat sudah anti terhadap pemerintah. Pemerintah mau menetapkan kebijakan seperti apapun masa bodo’. Wong mereka tidak merasa kesejahteraan telah diraih. Pun mereka tidak mengenal sosok pemerintah mereka sendiri. Siapa itu ketua DPR, MPR, seolah para wakil rakyat itu orang asing bagi mereka dan tidak peduli dengan nasib mereka. Memang, tidak semua pejabat seperti itu, masih ada yang idealis, berhati baik dan jujur serta amanah, tetapi tentu sosok mereka belumlah mendominasi setiap segi pemerintahan di negeri ini. Hingga kehadiran mereka hampir-hampir seolah tidak dapat dirasakan.

Padahal jika sedikit saja kita berlaku jujur, kita tidak akan pernah menyesal, karena jika sudah menjadi hak kita, tentu tidak akan pergi kemana-mana. Yang berarti kalau bukan hak kita, ya sudah pasti pergi kemana-mana.

Yang saya tidak habis pikir jika saya bertemu seseorang dan dia mengatakan, “Memang ngga halal sih mas, tapi mau gimana lagi? Cari duit di Jakarta susah mas!” ada lagi yang bilang begini, “Cari yang haram aja susah, apalagi yang halal!” Demikianlah, demi duit segala macam cara dihalalkan. Pasti orang-orang itu waktu sekolah dulu sering nyontek, makanya males mikir. Makanya terpuruk ketika keadaan mengharuskan berpikir untuk cari uang yang halal. Hehe.

Dulu, saat saya belum mengerti tentang praktik pinjam nama, saya bersedia saja nama saya dipakai untuk dimasukan ke surat tugas fiktif itu. Tetapi setelah mendapatkan uang setelahnya, saya langsung merasa ada yang salah. Dalam pikiran saya, saya bertanya sederhana, “Saya tidak bekerja kok dapat duit?”. Saya yakin, siapapun yang berakal pasti berpikiran sama, yang membedakan adalah iman. Iman lah yang menuntun saya untuk tidak menggunakan uang tersebut. Setelah saya diskusikan kepada seseorang yang memang saya terbiasa sharing dengan beliau, saya memutuskan untuk memberikan uang tersebut kepada yang membutuhkan. Kenapa kepada yang membutuhkan? Karena uang ini dari rakyat (pajak), dan tentu saja karena sudah diberikan kepada saya, Direktorat tidak ada hak untuk melarang saya akan saya kemanakan uang tersebut, maka dari rakyat untuk ‘rakyat’. Dan untuk menyelesaikan urusan ini, menurut saya tidak perlu jauh berpikir pakai dalil agama, cukup pakai  logika sederhanya seperti, kalau tidak kerja kenapa bisa dapat duit? Berarti duit itu bukan hak saya, segala macam pendapat yang membenarkan praktik pinjam nama akan dipatahkan dengan sendirinya. Kalau pakai dalil agama bukan patah lagi, tapi hancur. Hehe... Coba lihat, maling saja harus kerja dulu untuk dapat uang. Apa kerjanya? Ya maling. Begitu pula perampok, jambret dan koloni-koloninya.

Memang sih uang itu tidak seberapa, hanya senilai Rp. 150.000,00,-  tetapi terjadi keajaiban setelah ini. Lewat beberapa hari sejak saya memberikan uang tersebut kepada yang membutuhkan, saya di tugaskan untuk menemani Direktur Direktorat di kantor saya pergi ke Kuningan menghadiri suatu kegiatan. Yang saat itu, acara tersebut juga dihadiri oleh Menkokesra. Alhamdulillah, setelah acara berakhir dan saya kembali ke Jakarta, saya mendapatkan uang saku senilai Rp. 800.000,00,-  ditambah sisa uang transport yang saya hemat-hemat. Sebenarnya uang tersebut seharusnya saya gunakan selama berada di Kuningan, tetapi karena menurut saya uang itu sepenuhnya adalah hak saya, maka terserah saya kan, dan saya putuskan untuk tidak menggunakan uang tersebut kecuali jika sudah tiba di Jakarta. Menyadari ini, saya kemudian berpikir, “Benar juga ya, jika kita bersedekah meskipun sedikit Allah pasti membalasnya dengan balasan yang berlipat-lipat.” Dan tentu balasnya terserah Allah, jika Allah menghendaki membalasnya di dunia, maka tidak ada yang bisa menghalangi, jika Allah menghendaki membalasnya di akhirat, maka tidak ada yang bisa menghalanginya pula.

Begitulah Allah menunjukkan kepada kita kebesaran-Nya. Bagi siapa yang percaya (beriman) maka tidak ada keraguan sedikitpun atas rejeki yang telah Allah tentukan.

Lain lagi ceritanya ketika saya mendapatkan tugas pergi ke Jawa Timur, ketika singgah kesalah satu tempat yang sudah ditentukan, ketika hendak pamit saya diberikan oleh-oleh berupa kain batik dan satu dus besar makanan khas daerah tersebut. Lewat beberapa waktu, saya dan seorang senior saya tidak sadar bahwa didalam bingkisan yang terdapat kain batiknya ada sesuatu yang lebih dari sekedar kain batik. Tanpa disengaja ketika saya iseng memeriksa apa isi bingkisan tersebut, saya mendapatkan sebuah amplop berwarna coklat yang amat tebal. Saat itu saya sama sekali tidak curiga, tetapi saya tetap menyampaikan apa yang saya temukan kepada senior saya. Lalu beliau pun memeriksanya, setelah dibuka, didalamnya terdapat sejumlah uang dalam jumlah yang banyak. Kira-kira tebal kumpulan uang tersebut antara 1,5 sampai 2,5 centimeter. Yang setiap lembarnya bernilai Rp. 100.000,00,-.

Setelah dihitung, uang yang ada didalam amplop milik saya senilai Rp. 3.000.000,00,- Uang yang amat besar bagi saya. Tetapi saya kembali dengan keputusan seperti yang sudah saya sampaikan tadi. Disini saya ingin menyampaikan bahwa saya tidak bermaksud munafik, sok bermurah hati, sok suci dengan memilih untuk mensedekahkan dari uang Pinjam Nama itu atau uang lainnya, saya melakukan itu karena saya tahu bagaimana rasanya menjadi orang yang serba kekurangan, menjadi orang yang memikirkan untuk hidup dari bulan ke bulan, menjadi orang ndak punya. Wong cilik.

Tanpa bermaksud menggurui, saya hanya ingin menyampaikan, siapapun, yang didalam hati dan pikirannya tidak pernah berpikir mengenai hak orang lain maka dia akan melebihkan hak untuk dirinya tanpa mempedulikan kewajibannya, yakni bersedekah dan menyantuni anak yatim. Dan tentu pula hal itu adalah perangai yang amat buruk karena tidak menutup kemungkinan di lain hari orang tersebut tidak akan merasa bersalah jika melakukan tindakan korupsi. Jika menjadi pemimpin bisa jadi dia tidak amanah, jika menjabat dia hanya akan mengokohkan kemapanan diri sendiri.

Harus kita sadari bersama, bahwa tidak ada yang instan di dunia ini. Jika ingin mencapai tangga yang keseribu, tentu harus melewati tangga yang kesatu. Dan harus di ingat, setiap yang instan pasti memiliki tumbal. Sudah jelas, tumbal dari korupsi adalah banyaknya rakyat di negeri ini yang hidup dibawah garis kemiskinan. Banyaknya pembangunan-pembangunan yang mangkrak. Banyak orang yang dikorbankan, dan yang bertanggung jawab tidak peduli sama sekali. Ini jelas memperkeruh masa depan umat.

Pernah suatu ketika saya membicarakan masalah korupsi ini kepada seorang pensiunan PNS. Bukan dukungan yang saya dapat, saya malah dicemooh, “Kamu jangan sok suci, bagaimanapun kamu tetap butuh uang kan!” Menanggapi respon seperti ini saya dengan penuh hormat menjelaskan kepada beliau kenapa saya melakukan penolakan terhadap korupsi, tetapi setelah mendapatkan respon yang lebih pedas dari sebelumnya saya akhirnya mendiamkan orang tersebut.


***


Untuk Saudaraku, yang meniti jalan kejujuran, yang tidak takut terhadap orang-orang atau lingkungan yang mencemooh kalian karena kalian berpegang teguh terhadap kebenaran, janganlah takut!

Takutlah hanya  kepada Allah wahai saudaraku. Allah lah yang menciptakan seluruh isi langit dan bumi. Dia lah Allah, tiada Tuhan selain Dia yang pantas disembah. Allah melihatmu bahkan hingga relung hatimu yang paling dalam. Tak ada yang dapat kau sembunyikan dari Allah. Dia lah Tuhan Sang Maha Hebat Perhitungannya. Tak ada satu makhluk pun di bumi yang terluput dari perhitungan-Nya.

Kita hanya manusia, yang Allah perintahkan taat hanya kepada-Nya dan takut hanya kepada-Nya. Meninggalkan segala perbuatan dosa semata-mata hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Wahai saudaraku yang kucintai karena Allah, jika seluruh hidup kita hanya untuk Allah, jika setiap tetes keringat yang kita keluarkan saat letih bekerja hanya karena Allah, yakin lah Allah selalu melihat kita. Allah selalu mengawasi kita. Sungguh tak akan berarti memiliki banyak harta jika hal itu membuat kita semakin jauh dari Allah. Merasa hebat ketika memiliki uang banyak. Merasa hebat ketika dapat tidur di hotel adalah hal yang biasa bagi kita. Merasa hebat ketika berpergian kita mampu bahkan sering menggunakan pesawat sedangkan orang lain tidak.  Sadarilah, bahwa semua itu tidaklah kekal wahai Saudaraku. Kita pasti akan kembali kepada Allah dan akan mempertanggung jawabkan semuanya dihadapan Allah. Tidak takutkah engkau dengan api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia?

Sungguh masa yang kita jalani saat ini seperti apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sabdakan, ‘Akan ada suatu masa, dimana engkau memegang teguh ajaran Islam laksana menggenggam bara api.’ Sungguh apa yang dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebuah mukjizat yang terjadi pada masa kita, Saudaraku. Maka  janganlah engkau berlemah hati dan menyerah kepada keadaan.

Apakah karena orang lain mengatakan bahwa orang jujur pada masa ini bukanlah orang yang disenangi, atau orang jawa katakan, ndak payu nek golek kerjo! Ingatlah, jika engkau jujur karena Allah, letih dan lelah ujian yang kau hadapi akan hilang, tetapi pahalanya tetap, tetapi jika engkau berdusta, keuntungan yang kau dapat akan hilang, tetapi dosanya tetap. 

Janganlah takut jika yang kau katakan adalah kebenaran. Justru bersedihlah jika kau tahu banyak terjadi kesalahan disekelilingmu tetapi engkau tak mampu berbuat apa-apa. Percayalah, kejujuran selalu berbuah manis. Tak ada kesengsaraan yang kekal begitu pula kebahagiaan yang abadi didunia. Jika kepedihan adalah konsekwensi dari kebenaran yang kau pegang, ketahuilah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pernah ditentang oleh kafir Quraisy.

Janganlah takut wahai saudaraku, karena Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘kami beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut [29] : 2-3) 

Maka berbahagialah wahai saudaraku, kerena Allah sedang menguji kita dengan zaman. Siapa yang berhasil melewatinya, baginya surga yang didalamnya mengalir sungai yang airnya lebih manis daripada madu dan putihnya lebih putih daripada susu. Baginya surga yang luasnya melebihi langit dan bumi. Baginya segala yang ada di surga dan dia kekal didalamnya. Subhanallah...

0 Comment for "Korupsi dan Keyakinan Banyak Orang"

Rasulullah bersabda: “al-Quran akan datang pada hari kiamat seperti orang yang wajahnya cerah. Lalu bertanya kepada penghafalnya, “Kamu kenal saya? Sayalah membuat kamu bergadangan tidak tidur di malam hari, yang membuat kamu kehausan di siang harimu.” Kemudian diletakkan mahkota kehormatan di kepalanya dan kedua orangtuanya diberi pakaian indah yang tidak bisa dinilai dengan dunia seisinya. Lalu orang tuanya menanyakan, “Ya Allah, dari mana kami bisa diberi pakaian seperti ini?” kemudian dijawab, “Karena anakmu belajar al-Qur’an.” (HR. ath-Thabrani)

Back To Top