Sharing Seputar Islam

Sharing Seputar Islam

Orang yang Pertama Masuk Surga

“Pada hari kiamat, aku mendatangi pintu surga, lalu aku minta agar dibukakan. Sang penjaga pintu bertanya, “Siapa kamu?” Aku jawab, “Muhammad.” Kemudian penjaga ini menyatakan, “Aku diperintahkan untuk membuka karenamu. Tidak akan aku buka pintu surga bagi siapapun sebelum kamu.” (HR. Muslim no. 197)


Beriman kepada adanya surga adalah salah satu pokok aqidah Islam. Surga adalah tempat yang disediakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala bagi hamba-Nya sebagai balasan atas segala amal keta’atan seorang hamba yang telah dilakukannya ketika di dunia. Dalam bahasa Arab, surga disebut dengan al-Jannah (الجنة) yang berarti taman atau kebun, karena di surga terdapat taman yang sangat indah dengan sungai-sungai yang mengalir di dalamnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا ۚ تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا ۖ وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ

“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.”[1]

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى ۖ وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ

“(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?”[2]

Manusia yang pertama masuk surga

Banyak sekali ayat atau hadits yang menjelaskan mengenai surga serta kenikmatan yang ada di dalamnya. Lalu siapakah orang pertama yang diberikan kehormatan untuk masuk ke dalam surga ini? Orang yang pertama kali menginjakan kakinya di surga adalah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalil mengenai hal ini sangat banyak, diantaranya adalah hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

آتِي بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتفْتِحُ ، فَيَقُولُ الْخَازِنُ : مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ : مُحَمَّدٌ ، فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ لَا أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ

“Pada hari kiamat, aku mendatangi pintu surga, lalu aku minta agar dibukakan. Sang penjaga pintu bertanya: “Siapa kamu?” Aku jawab: “Muhammad.” Kemudian penjaga ini menyatakan: “Aku diperintahkan untuk membuka karenamu. Tidak akan aku buka pintu surga bagi siapapun sebelum kamu.”[3]

Juga dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَنَا أَكْثَرُ الْأَنْبِيَاءِ تَبَعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِ

“Saya adalah nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat. Dan saya adalah manusia yang pertama kali mengetuk pintu surga.”[4]

Dan juga dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا فَخْرَ

“Saya orang yang pertama masuk surga di hari kiamat. Dan bukan untuk sombong.”[5]

Manusia yang pertama masuk surga dari kalangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari kalangan umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pertama kali masuk surga adalah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu:

أَمَا إِنَّكَ يَا أَبَا بَكْرٍ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِى

“Engkau wahai Abu Bakar, adalah orang yang pertama masuk surga di antara umatku.”[6]

Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu sangat pantas mndapatkan keistimewaan ini, karena beliau adalah laki-laki dewasa pertama yang mengimani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pula yang selalu membenarkan setiap perkataan dan perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pula orang yang paling gigih dalam perjuangan dakwah dan senantiasa menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak di Makkah hingga wafatnya beliau, bahkan beliaulah yang menginfakan seluruh hartanya untuk dakwah Islam, beliau adalah mertua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau adalah laki-laki yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliaulah yang menjadi imam shalat berjama’ah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit dan beliaulah yang menjadi khalifah dan menggantikan tampuk kepemimpinan umat Islam setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.

Wanita yang pertama masuk surga

Banyak beredar di masyarakat mengenai kisah Muthi’ah yang diklaim sebagai wanita pertama yang masuk surga, namun hal tersebut tidaklah benar karena tidak terdapat riwayat yang shahih mengenai hal tersebut. Namun terdapat sebuah hadits yang menjelaskan mengenai para wanita pemuka ahli surga, yaitu sebuah riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَيِّدَاتُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَرْبَعٌ مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَفَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ وَآسِيَةُ

“Pemuka wanita ahli surga ada empat, yaitu Maryam binti ‘Imran, Fathimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah (istri Fir’aun).”[7]

Jika seandainya Muthi’ah adalah wanita pertama yang masuk surga, maka pasti nama dia masuk kedalam nama-nama pemuka wanita ahli surga, namun ternyata tidak. Maka hal ini menunjukan bahwa Muthi’ah bukanlah wanita pertama yang masuk surga dan riwayat mengenainya adalah lemah. Selain itu tidak ada satupun riwayat yang shahih menjelaskan mengenai siapa wanita pertama yang masuk surga.

Demikian penjelasan ringkas mengenai orang yang pertama masuk surga, dia adalah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dari umatnya yang pertama masuk surga adalah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ


[1] QS. ar-Ra’d [13] : 35
[2] QS. Muhammad [47] : 15
[3] HR. Muslim no. 197
[4] HR. Muslim no. 196
[5] HR. Ahmad no. 12408
[6] HR. Abu Dawud no. 4652
[7] HR. al-Hakim no. 4919


Referensi

  • al-Qur’an al-Kariim
  • al-Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. al-Musnad. 1416 H. Dar al-Hadits Kairo.
  • al-Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Abdillah al-Hakim an-Naisaburi. al-Mustadrak ‘alaa ash-Shahihain. 1417 H. Dar al-Haramain Kairo.
  • al-Imam Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi. Shahih Muslim. 1419 H. Bait al-Afkar ad-Dauliyyah Riyadh.
  • al-Imam Abu Dawud Sulaiman bin al-Asyats as-Sijistani. Sunan Abu Dawud. Bait al-Afkar ad-Dauliyyah Riyadh.

Siapakah Rasul Pertama?

“Mereka mendatangi Nuh lalu berkata: “Wahai Nuh, engkau adalah rasul pertama bagi penduduk bumi, Allah menyebutmu sebagai hamba yang sangat bersyukur.” (HR al-Bukhari no. 4343 dan Muslim no. 194)


Dalam riwayat yang shahih dijelaskan bahwa jumlah Nabi sangatlah banyak yaitu 124.000 sedangkan Rasul hanyalah 313 orang dalam riwayat lain 315 orang saja, dimana hanya 25 orang atau 26 orang saja yang namanya tercatat dalam al-Qur’an. perlu difahami bahwa nabi dan rasul adalah berbeda, seorang rasul sudah pasti nabi, namun seorang nabi belum tentu dia adalah rasul, karena hal itulah maka jumlah nabi lebih banyak dari jumlah rasul.

Nabi adalah seseorang yang diberikan wahyu oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan suatu syari’at namun tidak diperintahkan untuk menyampaikannya, akan tetapi mengamalkannya sendiri tanpa ada keharusan untuk menyampaikannya. Sedangkan Rasul adalah seseorang yang mendapatkan wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala dengan suatu syari’at dan dia diperintahkan untuk menyampaikannya kepada umatnya serta mengamalkannya.

Termasuk salah satu aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah beriman bahwasanya rasul pertama yang diutus adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam. Dalil yang menjadi landasan bahwa Nabi Nuh ‘alaihis salam adalah rasul pertama adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ

“Sesungguhnya Kami telah memberkan wahyu kepadamu sebagamana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya.”[1]

Dalam ayat ini terdapat kalimat وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ “dan nabi-nabi yang kemudiannya”, hal ini menunjukan bahwa Nabi Nuh ‘alaihis salam adalah rasul pertama, seandainya beliau bukanlah rasul pertama pasti Allah subhanahu wa ta’ala akan menunukkan hal tersebut dalam ayat ini. Selain itu, tidak ada satu pun dalil dari al-Qur’an yang menyatakan bahwa Nabi Adam ‘alaihis salam diutus dengan membawa risalah kepada suatu kaum, berbeda dengan Nabi Nuh ‘alaihis salam yang dalam beberapa ayat dijelaskan bahwa beliau diutus kepada suatu kaum, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih."[2]

Dan juga firman Allah subhanahu wa ta’ala:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحاً إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـهٍ غَيْرُهُ إِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).”[3]

Sedangkan dari hadits, maka hadits yang menunjukan bahwa Nabi Nuh ‘alaihis salam adalah rasul pertama adalah sebuah hadits panjang yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengenai keadaan umat manusia di padang masyhar. Dalam hadits tersebut dikatakan:

اذْهَبُوا إِلَى نُوحٍ فَيَأْتُونَ نُوحًا فَيَقُولُونَ يَا نُوحُ إِنَّكَ أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ وَقَدْ سَمَّاكَ اللَّهُ عَبْدًا شَكُورًا

“Mereka mendatangi Nuh lalu berkata: “Wahai Nuh, engkau adalah rasul pertama bagi penduduk bumi, Allah menyebutmu sebagai hamba yang sangat bersyukur.”[4]

Beberapa ulama menyakan bahwa rasul pertama adalah Nabi Adam ‘alaihis salam, mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهو فِي الْمَسْجِدِ فَجَلَسْتُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمْ وَفَاءُ عِدَّةِ الْأَنْبِيَاءُ؟ قَالَ مِائَةُ أَلْفٍ وَأَرْبَعَةٌ وَعِشْرُونَ أَلْفًا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمِ الرُّسُلُ مِنْ ذَلِكَ؟ قَالَ ثَلَاثُ مِائَةٍ وَخَمْسَةَ عَشَرَ جَمًّا غَفِيرًا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ كَانَ أَوَّلُهُمْ؟ قَالَ آدَمُ ، قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَبِيٌّ مُرْسَلٌ؟ قَالَ نَعَمْ خَلَقَهُ اللَّه بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَكَلَّمَهُ قِبَلًا

“Saya mendatangi Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang berada di dalam masjid, kemudian saya duduk dan bertanya: “Wahai Rasulullah, berapa jumlah para nabi? Beliau menjawab: “140.000 orang”, kemudian saya bertanya kembali: “Wahai Rasulullah, berapa jumlah para rasul?” Beliau menjawab: “315 orang banyak sekali”, kemudian saya bertanya kembali: “Wahai Rasulullah, siapakah yang pertama diantara mereka?” Beliau menjawab: “Adam”, lalu saya bertanya: “Apakah beliau seorang nabi yang diutus?” Beliau menjawab: “Ya, Allah menciptakannya dengan kedua tangan-Nya, meniupkan ruh kepadanya dari ruh-Nya dan berbicara kepadanya secara berhadapan.”[5]

Namun hadits diatas derajatnya lemah sekali (dha’if jiddan) karena dalam sanadnya terdapat perawi bernama Ibrahim bin Hisyam bin Yahya al-Ghassani ad­Dimasyqi yang dianggap pendusta dan ditinggalkan riwayatnya.

Karena status hadits yang menyakan bahwa Nabi Adam ‘alaihis salam adalah rasul pertama adalah dha’if jiddan, sedangkan terdapat hadits shahih yang menunjukan bahwa Nabi Nuh ‘alaihis salam adalah rasul pertama ditambah pula penjelasan dari al-Qur’an yang menunjukan bahwa Nabi Nuh ‘alaihis salam adalah rasul pertama, maka dapat disimpulkan bahwa rasul pertama adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam.

Salah satu sebab mengapa Nabi Nuh ‘alaihis salam merupakan rasul pertama karena pada masa ini mulailah muncul kesyirikan, dimana masa antara Nabi Adam ‘alaihis salam hingga Nabi Nuh ‘alaihis salam umat manusia masih berada dalam fitrahnya yaitu bertauhid, namun setelah masa Nabi Nuh ‘alaihis salam maka orang-orang mulai melakukan kesyirikan yang disebabkan oleh terlalu ghuluw atau berlebihan dalam mengkultuskan orang-orang shalih yang telah meninggal. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.”[6]

Mengenai ayat diatas, al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

وهي أسماء رجال صالحين من قوم نوح عليه السلام ، فلما هلكوا أوحى الشيطان إلى قومهم أن انصبوا إلى مجالسهم التي كانوا يجلسون فيها أنصابا وسموها بأسمائهم ، ففعلوا ، فلم تعبد حتى إذا هلك أولئك وتنسخ العلم عبدت

“Pada mulanya nama-nama tersebut (yaitu Wadd, Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr) merupakan nama orang-orang shalih dari kalangan kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan kepada kaum mereka” “Buatkanlah tugu-tugu pada bekas tempat-tempat duduk mereka berupa patung-patung, lalu namailah dengan nama-nama mereka.” Maka mereka melakukannya, dan pada mulanya tidak disembah. Tetapi lama-kelamaan setelah ilmu diangkat dari mereka, maka mulailah patung-patung itu disembah dan dipuja.”[7]

Karena hal inilah Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi Nuh ‘alaihis salam kepada kaumnya agar kaumnya kembali bertauhid dan menjauhi segala bentuk kesyirikan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih”, Nuh berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku.”[8]

Demikianlah penjelasan mengenai siapakah rasul pertama yang diutus ke muka bumi, beliau adalah Nabi Nuh ‘alaihis salam. Sedangkan Nabi Adam ‘alaihis salam hanyalah seorang nabi namun bukan rasul. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ


[1] QS. an-Nisa’ [4] : 163
[2] QS. Nuh [71] : 1
[3] QS. al-A’raf [7] : 59
[4] HR al-Bukhari no. 4343 dan Muslim no. 194
[5] HR. Ibnu Hibban no. 361
[6] QS. Nuh [71] : 23
[7] Tafsir al-Qur’an al-‘Azhiim, Juz 8 hal. 235
[8] QS. Nuh [71] : 1-3


Referensi

  • al-Qur’an al-Kariim
  • al-Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ism’ail al-Ju’fi al-Bukhari. Shahih al-Bukhari. 1419 H. Bait al-Afkar ad-Dauliyyah Riyadh.
  • al-Imam Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi. Shahih Muslim. 1419 H. Bait al-Afkar ad-Dauliyyah Riyadh.
  • al-Imam Abu Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir  al-Qurasyi ad-Dimasyqi. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhiim. 1420 H. Dar Thayyibah li an-Nasyr wa at-Tauzi’ Riyadh.
  • al-Imam Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin Mu’adz bin Ma’bud at-Tamimi. Shahih Ibnu Hibban bi Tartib Ibnu Balban. 1414 H. Mu'asasah ar-Risalah Beirut.
Ketika Musibah Terus Melanda, Maka Kembalilah Kepada Allah

Ketika Musibah Terus Melanda, Maka Kembalilah Kepada Allah

“Allah subhanahu wa ta’ala mengizinkan untuknya (maksudnya bumi) kadang-kadang untuk bernafas, lalu munculah gempa besar padanya, dari situ timbulah rasa takut, taubat, berhenti dari kemaksiatan, merendahkan diri kepada-Nya, dan penyesalan pada diri hamba-hamba-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama Salaf ketika terjadi gempa bumi: “Sesungguhnya Rabb kalian menginginkan agar kalian bertaubat.” (Miftah Dar as-Sa’adah, Juz 2 hal. 630)

Nusantara kembali berduka. Gempa bumi kembali melanda Indonesia. Belum selesai duka saudara-saudara kita di Lombok diakibatkan gempa bumi dengan kekuatan 6,4 skala richter pada bulan Juli lalu, sekarang menyusul musibah melanda saudara-saudara kita di Palu dan Donggala. Tanah mereka dilanda gempa dengan kekuatan 7,4 skala richter yang kemudian disusul dengan tsunami yang meluluh lantahkan kota mereka. Bahkan yang paling terbaru telah terjadi gempa pula di Sumba dengan kekuatan 6 skala richter. Mengapa sampai terjadi bencana yang bertubi-tubi di negeri ini? Apakah kita merasa aman dari Allah subhanahu wa ta’ala yang di atas langit seandainya Dia mengguncangkan bumi yang kita pijak saat ini?

Hakikatnya suatu musibah yang terjadi di bumi ini, baik berupa gempa bumi, tsunami serta segala hal yang menimbulkan bahaya serta penderitaan disebabkan oleh kesyirikan serta kemaksiatan yang telah kita perbuat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”[1]

Allah subhanahu w ta’ala juga berfirman:

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

“Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri.”[2]

Segala bentuk musibah merupakan sebuah teguran dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-hamba-Nya agar mereka kembali pada-Nya. al-Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

أذن الله سبحانه لها –أي للأرض– في الأحيان بالتنفس، فتحدث فيها الزلازل العظام، فيحدث من ذلك لعباده الخوف والخشية والإنابة والإقلاع عن معاصيه والتضرع إليه والندم، كما قال بعض السلف وقد زلزلت الأرض: إن ربكم يستعتبكم

“Allah subhanahu wa ta’ala mengizinkan untuknya (maksudnya bumi) kadang-kadang untuk bernafas, lalu munculah gempa besar padanya, dari situ timbulah rasa takut, taubat, berhenti dari kemaksiatan, merendahkan diri kepada-Nya, dan penyesalan pada diri hamba-hamba-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama Salaf ketika terjadi gempa bumi: “Sesungguhnya Rabb kalian menginginkan agar kalian bertaubat.”[3]

Karena hal tersebut, maka satu-satunya cara agar terlepas dari segala musibah tersebut adalah dengan kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala. kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan bertaubat, istiqamah dalam keta'atan, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, menjauhi kesyirikan, kebid'ahan dan kemaksiatan. Jika kita telah kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menghindarkan kita dari adzab-Nya serta memberikan kepada kita berbakai kebaikan serta keberkahan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”[4]

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kesabaran kepada saudara-saudara kita yang tertimpa bencana. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memperbaiki keadaan kaum muslimin dalam pemahaman agama, keistiqamahan dalam keta’atan. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memperbaiki kondisi para pemimpin kaum muslimin sehingga mereka kembali kepada syari’at-Nya, memperjuangkan kebenaran dan keadilan serta menghilangkan kebathilan. Wa shallallahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ


[1] QS. asy-Syura [42] : 30
[2] QS. an-Nisa’ [4] : 79
[3] Miftah Dar as-Sa’adah, Juz 2 hal. 630
[4] QS. al-A’raf [7] : 96

Referensi

  • al-Qur’an al-Kariim
  • al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Miftah Dar as-Saadah wa Mansyur Wilayat al-llm wa al-Iradah. 1432 H. Majmu al-Fiqh al-Islami Jeddah.

Kitab-Kitab Allah yang Telah Diwahyukan

“Dan mereka yang beriman kepada kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. al-Baqarah [2] : 4)


Salah satu wujud keimanan kita kepada kitab-kitab Allah adalah mempercayai serta meyakini sepenuh hati bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada para nabi dan rasul yang berisi wahyu Allah subhanahu wa ta’ala untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ

“Dan mereka yang beriman kepada kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.”[1]

Kitab-kitab Allah subhanahu wa ta’ala yang telah diturunkan terbagi menjadi dua jenis yaitu berupa shuhuf dan mushhaf. Shuhuf adalah jamak dari kata shahifah yaitu lembaran-lembaran yang berisikan wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala yang diberikan kepada para nabi dan rasul. Sedangkan mushhaf adalah shuhuf-shuhuf atau lembaran-lembaran yang telah dibukukan. Para ulama menyatakan bahwa jumlah kitab yang telah Allah subhanahu wa ta’ala turunkan ke muka bumi berjumlah 104 kitab sebagaimana sebuah riwayat dari Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِائَةُ كِتَابٍ وَأَرْبَعَةُ كُتُبٍ أُنْزِلَ عَلَى شِيثٍ خَمْسُونَ صَحِيفَةً وَأُنْزِلَ عَلَى أَخْنُوخَ ثَلَاثُونَ صَحِيفَةً وَأُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَشَرُ صَحَائِفَ وَأُنْزِلَ عَلَى مُوسَى قَبْلَ التَّوْرَاةِ عَشَرُ صَحَائِفَ وَأُنْزِلَ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ وَالزَّبُورُ وَالْقُرْآنُ

“Allah subhanahu wa ta'ala telah menurunkan 104 kitab, 50 shuhuf kepada Syits, 30 shuhuf kepada Akhnukh (Idris), 10 shuhuf kepada Ibrahim dan 10 shuhuf kepada Musa, dan Taurat, Injil, Zabur serta al-Furqan (al-Qur'an).”[2]

Namun hadits di atas dilemahkan oleh beberapa ulama karena didalam sanad hadits tersebut terdapat perawi dha’if yaitu Ibrahim bin Hisyam bin Yahya al-Ghassani. Maka yang benar bahwa jumlah kitab yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada para nabi dan rasul mungkin kurang dari 104 kitab atau bahkan bisa lebih, sebagaimana kita mengetahui bahwa para nabi dari kalangan Bani Israil biasa memiliki kitab-kitab yang menjadi pegangan mereka dalam berdakwah.

Dalam berbagai dalil dalam al-Qur’an dan al-Hadits yang shahih, kitab yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada para nabi dan rasul yang diberitakan ada enam yaitu shuhuf Ibrahim, shuhuf Musa, Taurat, Zabur, Injil dan al-Qur’an.

1.      Shuhuf Ibrahim

Shuhuf Ibrahim adalah lembaran yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Shuhuf Ibrahim diturunkan pada awal malam Ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ

"Shuhuf Ibrahim 'alaihis salam diturunkan pada awal malan Ramadhan."[3]

Shuhuf Ibrahim berisi peringatan, hikmah, nasihat dan pelajaran-pelajaran. Hal ini tertuang dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ الَّذِي تَوَلَّى وَأَعْطَى قَلِيلًا وَأَكْدَى أَعِنْدَهُ عِلْمُ الْغَيْبِ فَهُوَ يَرَى أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَى وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى

“Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur’an)? Serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi? Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib, sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)? Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.”[4]

Dan juga firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى إِنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa.”[5]

Selain itu terdapat sebuah riwayat dalam hadits mengenai isi dari shuhuf Ibrahim, namun riwayatnya lemah. Hadits tersebut diriwayatkan dari Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كَانَتْ صَحِيفَةُ إِبْرَاهِيمَ؟

“Wahai Rasulullah, apakah yang terdapat di dalam shuhuf Ibrahim?”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

كَانَتْ أَمْثَالًا كُلُّهَا : أَيُّهَا الْمَلِكُ الْمُسَلَّطُ الْمُبْتَلَى الْمَغْرُورُ إِنِّي لَمْ أَبْعَثْكَ لِتَجْمَعَ الدُّنْيَا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَلَكِنِّي بَعَثْتُكَ لِتَرُدَّ عَنِّي دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنِّي لَا أَرُدُّهَا وَلَوْ كَانَتْ مِنْ كَافِرٍ وَعَلَى الْعَاقِلِ مَا لَمْ يَكُنْ مَغْلُوبًا عَلَى عَقْلِهِ أَنْ تَكُونَ لَهُ سَاعَاتٌ : سَاعَةٌ يُنَاجِي فِيهَا رَبَّهُ وَسَاعَةٌ يُحَاسِبُ فِيهَا نَفْسَهُ وَسَاعَةٌ يَتَفَكَّرُ فِيهَا فِي صُنْعِ اللَّهِ وَسَاعَةٌ يَخْلُو فِيهَا لِحَاجَتِهِ مِنَ الْمَطْعَمِ وَالْمَشْرَبِ وَعَلَى الْعَاقِلِ أَنْ لَا يَكُونَ ظَاعِنًا إِلَّا لِثَلَاثٍ : تَزَوُّدٍ لِمَعَادٍ أَوْ مَرَمَّةٍ لِمَعَاشٍ، أَوْ لَذَّةٍ فِي غَيْرِ مُحَرَّمٍ وَعَلَى الْعَاقِلِ أَنْ يَكُونَ بَصِيرًا بِزَمَانِهِ مُقْبِلًا عَلَى شَأْنِهِ حَافِظًا لِلِسَانِهِ وَمَنْ حَسَبَ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ، قَلَّ كَلَامُهُ إِلَّا فِيمَا يَعْنِيهِ

“Seluruh isinya adalah permisalan-permisalan, seperti: “Wahai raja yang berkuasa, yang diuji dan yang tertipu! Aku tidak mengutusmu untuk menumpuk harta kekayaan, tapi untuk memenuhi permohonan orang yang terzhalimi. Sebab, Aku tidak akan menolak permohonannya, meskipun ia kafir. Orang berakal, selama tidak dikuasai oleh akalnya, harus bisa membagi waktunya, waktu untuk bermunajat kepada Tuhannya, waktu untuk introspeksi diri, waktu untuk merenungkan ciptaan-ciptaan Tuhan dan waktu untuk bekerja mencari makan dan minum. Orang berakal hendaknya tidak bepergian kecuali dengan tiga tujuan, yaitu pergi untuk mencari bekal menuju akhirat, pergi untuk mencari bekal hidup di dunia dan pergi untuk menikmati sesuatu yang tidak haram. Orang berakal hendaknya jeli melihat perkembangan zaman dan siap mengarunginya, sertasenantiasa menjaga lisan. Barangsiapa menganggap perkataan sebagai bagian dari amal, tentu hanya akan sedikit berbicara kecuali yang bermanfaat.”[6]

Para tabi’in pun tak sedikit yang mengutip shuhuf Ibrahim yang kemungkinan besar dikutip dari kitab-kitab Bani Israil, seperti kutipan shuhuf Ibrahim oleh al-Imam Dawud bin Hilal an-Nashibi rahimahullah. Beliau berkata:

مكتوب في صحف إبراهيم عليه السلام : يا دنيا ما أهونك على الأبرار الذين تصنعتِ لهم وتزينتِ لهم ، إني قد قذفت في قلوبهم بغضك والصدود عنك ، ما خلقت خلقا أهون عليَّ منك ، كل شأنك صغير ، وإلى الفناء تصيرين ، قضيت عليك يوم خلقتُ الخلق ألا تدومي لأحد ، ولا يدوم لك أحد ، وإن بخل بك صاحبك وشح عليك ، طوبى للأبرار الذين أطلعوني من قلوبهم على الرضا ، وأطلعوني من ضميرهم على الصدق والاستقامة ، طوبى لهم ، ما لهم عندي من الجزاء إذا وفدوا إلي من قبورهم إلا النور يسعى أمامهم ، والملائكة حافون بهم حتى أبلغ بهم ما يرجون من رحمتي

“Tertera dalam shuhuf Ibrahim alaihis salam: “Wahai dunia, betapa rendahnya dirimu yang berpura-pura dan bergaya di hadapan orang-orang shalih. Sungguh Aku telah menetapkan di hati mereka keengganan terhadapmu dan penolakan terhadapmu. Tidaklah Aku menciptakan ciptaan yang lebih rendah darimu. Semua urusanmu adalah kecil, engkau akan binasa. Aku telah menetapkan dikala Aku ciptakan makhluk bahwa engkau tidak akan abadi untuk siapapun dan tidak ada seorang pun yang abadi di atasmu, walaupun pencintamu pelit dan kikir karenamu. Beruntunglah orang-orang yang shalih yang selalu ridha dengan-Ku di hati mereka dan selalu jujur hatinya serta istiqamah. Beruntunglah mereka. Tidak ada balasan mereka dari-Ku jika mereka menghadap-Ku kecuali cahaya yang berjalan di depan mereka dan malaikat yang mengelilingi mereka sehingga mereka tiba pada apa yang merekah harapkan berupa rahmat-ku.”[7]

2.     Shuhuf Musa

Shuhuf Musa adalah lembaran yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam sebelum beliau diberikan kitab Taurat, sebagian ulama menyatakan bahwa shuhuf Musa adalah bagian dari kitab Taurat. Isi kandungan dari shuhuf Musa tidaklah jauh berbeda dengan isi kandungan shuhuf Ibrahim yaitu berisi peringatan, hikmah, nasihat dan pelajaran-pelajaran. Hal tersebut tertuang dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

أَفَرَأَيْتَ الَّذِي تَوَلَّى وَأَعْطَى قَلِيلًا وَأَكْدَى أَعِنْدَهُ عِلْمُ الْغَيْبِ فَهُوَ يَرَى أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَى وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى

“Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari al-Qur’an)? Serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi? Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib, sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)? Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna.”[8]

Dan juga firman Allah subhanahu wa ta’ala:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى إِنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa.”[9]

Dalam sebuah hadits dengan sanad yang lemah. Diriwayatkan dari sahabat Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, beliau bertanya

يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا كَانَتْ صُحُفُ مُوسَى؟

“Wahai Rasulullah, apakah yang terdapat di dalam shuhuf Musa?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

كَانَتْ عِبَرًا كُلُّهَا : عَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْمَوْتِ ثُمَّ هُوَ يَفْرَحُ وَعَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالنَّارِ ثُمَّ هُوَ يَضْحَكُ، وَعَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْقَدَرِ ثُمَّ هُوَ يَنْصَبُ عَجِبْتُ لِمَنْ رَأَى الدُّنْيَا وَتَقَلُّبَهَا بِأَهْلِهَا ثُمَّ اطْمَأَنَّ إِلَيْهَا وَعَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْحِسَابِ غَدًا ثُمَّ لَا يَعْمَلُ

“Semua isinya adalah ungkapan-ungkapan penuh kebijaksanaan, seperti: “Aku heran dengan orang yang percaya neraka, tapi dia masih bisa banyak tertawa. Aku heran dengan orang yang percaya kematian, tapi dia hanya santai dan bergembira. Aku heran dengan orang yang percaya takdir, tapi dia berjudi mengundi nasibnya. Aku heran dengan orang yang percaya adanya perhitungan amal, tapi dia enggan beramal (kebaikan).”[10]

3.     Taurat

Taurat adalah kitab yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam sebagai petunjuk bagi Bani Israil. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِنْ دُونِي وَكِيلًا

“Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku.”[11]

Taurat diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dalam bahasa Ibrani dan Taurat diturunkan pada hari keenam di bulan Ramadhan. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Watsilah bin al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ

"Taurat diturunkan pada hari keenam di Ramadhan."[12]

Isi pokok Taurat adalah 10 firman Allah subhanahu wa ta’ala bagi Bani Israil (The Ten Commandments). Selain itu, Taurat berisikan tentang aqidah, tauhid, sejarah nabi-nabi terdahulu dan kumpulan hukum atau syari’at yang diberikan kepada Bani Israil. 10 firman Allah subhanahu wa ta’ala kepada Bani Israil (The Ten Commandments), yaitu:
1.       Mengakui keesaan Allah subhanahu wa ta’ala (Tauhid)
2.      Larangan menyembah berhala
3.      Larangan menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala dengan sembarangan
4.      Memuliakan hari Sabtu
5.      Menghormati orang tua
6.      Larangan membunuh
7.      Larangan berzina
8.     Larangan mencuri
9.      Larangan berdusta
10.  Larangan menginginkan sesuatu yang menjadi hak orang lain.

Taurat yang ada saat ini yaitu yang dikenal dengan Kitab Perjanjian Lama atau Pentateukh, maka kitab tersebut bukanlah Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, hal tersebut dapat kita perhatikan dari banyaknya kontradiksi di dalamnya, terdapat banyak kesalahan ilmiah serta ketidakmampuan mereka para Rabi Yahudi menunjukan sanad ilmiah yang shahih hingga Nabi Musa ‘alaihis salam. Selain itu kitab Taurat pun sempat hilang beberapa kali sebagaimana telah diakui oleh para Rabi Yahudi sebagaimana yang terjadi pada masa penyerangan Nebukadnezar ke tanah Palestina di masa lalu. Allah subhanahu wa ta’ala pun menyatakan bahwa Taurat telah isinya telah dicampuri dan dirubah oleh Bani Israil, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.”[13]

4.     Zabur

Zabur adalah kitab yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada Nabi Dawud ‘alaihis salam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِمَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَىٰ بَعْضٍ ۖ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

“Dan Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Dawud.”[14]

Zabur diturunkan kepada Nabi Dawud ‘alaihis salam dalam bahasa Ibrani. Zabur juga dalam bahasa Arab disebut dengan Mazmur dan jamaknya Mazamir yang bermakna nyanyian atau sya’ir rohani. Isi kandungan Zabur hanya berisi pujian-pujian kepada Allah subhanahu wa ta’ala, hikmah, nasihat, pelajaran-pelajaran, ucapan rasa syukur dan do’a-do’a. Zabur tidak berisi mengenai hukum atau syari’at karena umat Nabi Dawud ‘alaihis salam masih diwajibkan untuk mengikuti hukum atau syari’at Taurat.

5.     Injil

Injil adalah kitab yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam sebagai petunjuk bagi Bani Israil serta membenarkan kitab yang diturunkan sebelumnya yaitu Taurat dan Zabur. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَقَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِمْ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ ۖ وَآتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ

“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan ‘Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.”[15]

Injil diturunkan dalam bahasa Ibrani, beberapa ulama mengatakan turun dalam bahasa Aramaik. Injil diturunkan kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam pada hari ketiga belas di bulan Ramadhan. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Watsilah bin al-Asqa' radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ

"Injil diturunkan pada hari ketiga belas di Ramadhan."[16]

Isi pokok dalam Injil adalah penyempurna serta menguatkan apa-apa yang telah ada dalam Taurat, selain itu pada umumnya isi kandungan Injil adalah mengajak untuk hidup zuhud. Seperti yang terjadi pada Taurat, Injil pun mengalami banyak sekali distorsi. Diantara bukti bahwa Injil mengalami banyak distorsi adalah fakta bahwa Injil yang saat ini dipegang oleh umat Nasrani yaitu Injil Lukas, Injil Markus, Injil Mathius dan Injil Yohannes bukanlah Injil yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam. Injil-injil tersebut ditulis beberapa tahun setelah Nabi ‘Isa ‘alahis salam wafat sehingga banyak sekali kesalahan ilmiah serta kontradiksi antara satu versi dengan versi yang lainnya. Selain itu Injil yang ada saat ini tidak ada satu pun para pendeta Nasrani yang dapat membuktikan dengan sanad bahwa Injil yang ada saat ini adalah Injil yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa ‘alaihis salam.

6.     al-Qur’an

al-Qur’an adalah kalamullah yang paling sempurna dan tidak ada yang dapat menyamainya, diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui perantara Jibril ‘alaihis salam sebagai mukjizat terbesar dan juga petunjuk serta pedoman bagi seluruh alam. al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab dengan tingkat bahasa yang sangat tinggi namun mudah difahami, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

نَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”[17]

al-Qur’an diturunkan dari Lauh al-Mahfuzh ke langit dunia pada bulan Ramadhan, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil).”[18]

Tepatnya pada Lailah al-Qadr (Malam Kemuliaan) sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan.”[19]

Kemudian al-Qur’an diturunkan dari langit dunia kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan dan 2 hari

al-Qur’an memiliki sanad mutawatir sehingga tidak ada kemungkinan untuk dipalsukan walaupun hanya satu huruf, karena al-Qur’an telah dijaga keotentikannya oleh Allah subhanahu wa ta’ala, hal ini dapat diperhatikan dari jumlah hafizh al-Qur’an (pengahfal al-Qur’an) yang sangat banyak di seluruh penjuru dunia. Salah satu keutamaan al-Qur’an dibandingkan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala lainnya seperti Taurat dan Injil adalah bahwasanya al-Qur’an jika dibaca maka pembacanya akan mendapatkan pahala setiap hurufnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur’an, maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kebaikan semisalnya, dan aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.”[20]

Selain keutamaan di atas, al-Qur’an pun memiliki banyak sekali keutamaan bagi siapa saja yang membaca, memahami, mengamalkan serta mengajarkannya.

Menurut sebagian ahli tafsir, terdapat banyak istilah dalam berbagai ayat al-Qur'an yang dianggap merujuk sebagai nama lain al-Qur’an, yaitu:
  • al-Kitab (Buku)
  • al-Furqan (Pembeda benar salah)
  • adz-Dzikr (Pemberi peringatan)
  • al-Mau'izhah (Pelajaran atau nasihat)
  • al-Hukm (Peraturan atau hukum)
  • al-Hikmah (Kebijaksanaan)
  • asy-Syifa (Obat atau penyembuh)
  • al-Huda (Petunjuk)
  • at-Tanzil (Yang diturunkan)
  • ar-Rahmat (Karunia)
  • ar-Ruh (Ruh)
  • al-Bayan (Penerang)
  • al-Kalam (Ucapan atau firman)
  • al-Busyra (Kabar gembira)
  • an-Nur (Cahaya)
  • al-Basha'ir (Pedoman)
  • al-Balagh (Penyampaian atau kabar)
  • al-Qaul (Perkataan atau ucapan)

al-Qur'an terdiri atas 114 surah, 30 juz dan 6236 ayat menurut riwayat Hafsh, 6262 ayat menurut riwayat ad-Dur dan 6214 ayat menurut riwayat Warsy. Secara umum, al-Qur'an terbagi menjadi 30 bagian yang dikenal dengan nama juz. Pembagian juz memudahkan mereka yang ingin menuntaskan pembacaan al-Qur'an dalam kurun waktu 30 hari. Terdapat pembagian lain yang disebut manzil, yang membagi al-Qur'an menjadi 7 bagian.

Kedudukan al-Qur’an sebagai kitab yang paling sempurna dan diwahyukan terakhir oleh Allah subhanahu wa ta’ala, menjadikan al-Qur’an ini sebagai penyempurna serta menasakh (menghapus) semua hukum-hukum dalam kitab-kitab sebelumnya. Maka setiap ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab sebelum al-Qur’an baik itu ajaran yang benar apalagi yang telah diselewengkan oleh para Ahli Kitab, maka al-Qur’an telah menasakhnya (menghapusnya). Bahkan terdapat sebuah riwayat yang menceritakan mengenai kemarahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu melihat-lihat lembaran dan membacakan Taurat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَمُتَهَوِّكُوْنَ فِيْهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ جِئْتُكُمِ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً ، لاَ تَسْأَلُوْهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوْا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوْا بِهِ ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِي

“Apakah engkau termasuk orang yang bingung, wahai Ibnu al-Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah datang kepada kalian membawa agama yang putih bersih. Janganlah kalian menanyakan sesuatu kepada mereka (ahli kitab), sehingga mereka mengabarkan al-haq (kebenaran) kepada kalian lantas kalian mendustakannya. Atau mereka mengabarkan satu kebatilan lantas kalian membenarkannya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihis salam masih hidup, niscaya tidaklah boleh baginya kecuali mengikuti aku.”[21]

Hadits diatas menjadi dalil bahwa hukum mempelajari kitab-kitab selain al-Qur’an adalah haram bagi orang awam. Namun bagi seorang cendekiawan yang aqidahnya telah kuat maka mempelajari kitab-kitab selain al-Qur’an dengan tujuan untuk mengetahui kelemahan serta kesalahan kitab-kitab tersebut maka itu diperbolehkan sebagai salah satu metode berdakwah kepada orang-orang kafir agar mereka mau menerima kebenaran Islam sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa cendekiawan muslim saat ini seperti asy-Syaikh Ahmad Deedat rahimahullah dan asy-Syaikh Zakir Naik al-Hindi hafizhahullah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”[22]

Demikianlah penjelasan ringkas mengenai kitab-kitab Allah, bahwasanya jumlah kitab-kitab Allah subhanahu wa ta’ala sangatlah banyak, namun bilangan pastinya tidak diketahui. Sedangkan yang disebutkan dalam al-Qur’an ada enam yaitu Shuhuf Ibrahim, Shuhuf Musa, Taurat, Zabur, Injil dan al-Qur’an. al-Qur’an adalah kitab terakhir yang Allah subhanahu wa ta’ala turunkan dan al-Qur’an ini menyempurnakan serta menasakh (menghapus) semua hukum-hukum dalam kitab-kitab sebelumnya. Maka wajib bagi siapapun untuk tunduk dan patuh terhadap seluruh ajaran dan hukum-hukum yang terdapat dalam al-Qur’an. Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ


[1] QS. al-Baqarah [2] : 4
[2] HR. Ibnu Hibban no. 361
[3] HR. Ahmad no. 16921
[4] QS. an-Najm [53] : 33-41
[5] QS. al-A’la [87] : 14-19
[6] HR. Ibnu Hibban no. 361
[7] az-Zuhd. hal. 97
[8] QS. an-Najm [53] : 33-41
[9] QS. al-A’la [87] : 14-19
[10] HR. Ibnu Hibban no. 361
[11] QS. al-Isra’ [17] : 2
[12] HR. Ahmad no. 16921
[13] QS. al-Baqarah [2] : 79
[14] QS. al-Isra’ [17] : 55
[15] QS. al-Ma’idah [5] : 46
[16] HR. Ahmad no. 16921
[17] QS. Yusuf [12] : 2
[18] QS. al-Baqarah [2]: 185
[19] QS. al-Qadr [97] : 1
[20] HR. at-Tirmidzi no. 2910
[21] HR. Ahmad no. 15094
[22] QS. an-Nahl [16] : 125


Referensi

  • al-Qur’an al-Kariim
  • al-Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal. al-Musnad. 1416 H. Dar al-Hadits Kairo.
  • al-Imam Abu Bakar ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi ad-Dunya al-Qurasyi al-Baghdadi. Kitab az-Zuhd. 1420 H. Dar Ibn Katsir Damaskus.
  • al-Imam Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah at-Tirmidzi. Jami’ at-Tirmidzi. Bait al-Afkar ad-Dauliyyah Riyadh.
  • al-Imam Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin Mu’adz bin Ma’bud at-Tamimi. Shahih Ibnu Hibban bi Tartib Ibnu Balban. 1414 H. Mu'asasah ar-Risalah Beirut.

Rasulullah bersabda: “al-Quran akan datang pada hari kiamat seperti orang yang wajahnya cerah. Lalu bertanya kepada penghafalnya, “Kamu kenal saya? Sayalah membuat kamu bergadangan tidak tidur di malam hari, yang membuat kamu kehausan di siang harimu.” Kemudian diletakkan mahkota kehormatan di kepalanya dan kedua orangtuanya diberi pakaian indah yang tidak bisa dinilai dengan dunia seisinya. Lalu orang tuanya menanyakan, “Ya Allah, dari mana kami bisa diberi pakaian seperti ini?” kemudian dijawab, “Karena anakmu belajar al-Qur’an.” (HR. ath-Thabrani)

Back To Top